|

Debt Collector Adira Diduga Rampas Fortuner Warga Aceh Timur di Medan

Arya memberikan kuasa kepada Ketua YARA Perwakilan Langsa.


REPORTASEGLOBAL.COM - Debt Collector dari tenaga eksternal  PT. Adira Finance diduga merampas sebuah mobil toyota fortuner, yang merupakan objek kredit atas nama Aria Putra (28) Warga Desa Gampong Aceh, Kecamatan Idi Rayeuk, Kabupaten Aceh Timur, sekitar beberapa bulan lalu pada tahun 2019.

Menurut keterangan Aria, peristiwa itu terjadi saat dia dan istrinya pergi berbelanja ke Medan, tepatnya saat sedang berada di jalan Gagak Hitam, Sunggal, pada Senin (17/6/2019).

Kemudian, saat dia sedang mengendarai Fortuner BL 1598 JR D, warna hitam, tepatnya di depan hotel SAKA Medan,  tiba - tiba dirinya didekati oleh 7 (tujuh) orang pria tidak dikenal, dan diduga adalah debt collector dari PT. Adira Finance.

Menurut Aria, mulanya ia diajak berbicara oleh beberapa diantara  tujuh pria tegap itu, Namun  dalam waktu sekejap,  ia melihat kunci kontak mobil tersebut ternyata sudah tidak berada lagi pada tempatnya.

" Saya tanya, ada masalah apa, sehingga kunci kontak diambil, kemudian salah satu pelaku mengajak saya berbicara di belakang mobil, tetapi pelaku yang lain langsung membawa kabur mobil tersebut, dan salah satu pelaku langsung menyerahkan surat berlogo PT ADIRA DINAMIKA MULTI FINANCE.Tbk, sebanyak 1 lembar dan salah satunya merupakan berita acara serah terima kendaraan, dan saat menyerahkan surat tersebut, pelaku tidak mengatakan apapun kepada saya, dan langsung pergi menggunakan mobil avanza hitam, meninggalkan saya," ujar Aria kepada awak media, Senin 15 Juni 2020.

Tak terima dengan apa yang dialaminya, akhirnya korban bersama beberapa awak media mendatangi Kantor PT. Adira Finance Cabang Langsa, untuk mempertanyakan keberadaan unit kendaraan tersebut. Namun kedatangan awak media sempat dihalangi oleh petugas keamanan setempat, hingga akhirnya hanya korban beserta satu orang awak media saja yang diperbolehkan masuk ke ruang staf di kantor itu, sedangkan awak media lainnya tidak dibenarkan masuk dan tetap menunggu di luar.

Dalam pertemuan singkat itu, pihak Adira Langsa, diwakili oleh (RD) sebagai Supervisor Penanganan Unit, membenarkan bahwa pihak mereka telah melakukan penarikan mobil atas nama Aria, melalui tenaga eksternal (Debt Collector) mereka di Medan.

" Ya, memang benar dari pihak Adira, itu tenaga eksternal di Medan, kami sudah coba menghubungi saudara Aria sebelumnya, tapi tidak ketemu,dia pun tidak ke kantor untuk menyelesaikannya,' jelas RD yang saat itu sempat saling berbantahan dengan Arya di ruang kerja tersebut.

Namun RD tidak menjelaskan secara gamblang soal ada atau tidaknya putusan pengadilan terkait mekanisme penarikan mobil kreditan tersebut. Bahkan saat itu, rekan RD di meja lain, turut mencoba memberi penjelasan, bahwa putusan mahkamah agung terkait itu baru berlaku 2020.

"Soal harus ada putusan pengadilan itu kan baru diputuskan dan berlaku 2020, sedangkan kami tarik mobilnya udah 2019," ungkap rekan RD tersebut.

Kedatangan Aria yang bermaksud mempertanyakan keberadaan mobil tersebut, tidak mendapatkan jawaban seperti yang ia harapkan, bahkan mobil itu tidak terlihat di kantor Adira Langsa.

Atas peristiwa itu, korban  mengaku mengalami kerugian kurang lebih sekitar Rp. 157 juta, ditambah barang pribadi miliknya yang hingga kini belum dikembalikan dari dalam mobil saat penarikan itu.

Korban juga mengungkapkan, sebelumnya dia tidak pernah menerima surat peringatan dalam bentuk apapun dari pihak PT. Adira Finance,  hingga mobil tersebut raib dari tangannya.
.
Demi mendapatkan keadilan,  pada Senin (15/6/2020) Aria memberikan kuasa kepada Ketua YARA Perwakilan Langsa H.A .Muthallib lbr,.SE,.SH,. MSi,.Mkn, didampingi Sekjen YARA Langsa, Zaid Al Adawi,SH.

Dalam kesempatan itu, H.A.Mutallib menyatakan, bahwa pihaknya sangat kecewa atas penarikan paksa yang diduga dilakukan  PT Adira Finance Cabang Langsa, terhadap kliennya tersebut.

Menurut dia, mestinya  penarikan itu dilakukan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku, yaitu penarikan berdasarkan penetapan pengadilan.

" Pihak Adira dibolehkan melakukan penarikan tanpa penetapan pengadilan, tetapi pada saat penarikan, pihak leasing wajib membawa sertifikat fidusia, Namun pada saat penarikan tidak diperlihatkan sertifikat fidusia, tentu saja hal ini tidak dibenarkan Undang-undang," ujar H A Muthallib yang juga merupakan seorang D
dosen di Fakultas Hukum Unsam Langsa.

Menurut, H.A Muthallib, penarikan paksa yang dilakukan PT. Adira Finance Cabang Langsa, dapat dikategorikan sebagai perampasan, dan telah melanggar ketentuan Pasal 368 KUHPidana.

" Maka  kami akan segera melakukan somasi, atau akan kami lakukan langkah hukum, membuat laporan polisi terhadap perbuatan tersebut, ujar mantan Wakil Ketua PWI Aceh tersebut.( SuaraKPK)


Komentar Anda

Berita Terkini