|

Pelaksana Program PSR Seumanah Jaya Diduga Koperasi Bermasalah

Ilustrasi



REPORTASEGLOBAL.COM  - Berlarut - larutnya polemik antara sejumlah petani penerima manfaat dari program replanting sawit, atau PSR (Peremajaan Sawit Rakyat) senilai Rp.16 miliar, dengan pihak koperasi di Desa Seumanah Jaya, Kecamatan Ranto Peureulak, Kabupaten Aceh Timur, memasuki babak baru.

Sejumlah perwakilan petani itu diisukan akan melakukan gerakan mosi tidak percaya terhadap salah satu ketua koperasi, yang dinilai telah jauh melenceng dari ketentuan yang berlaku, sejak koperasi itu ditunjuk sebagai pelaksana program tersebut.

" Banyak yang sudah dilanggar oleh ketua, semuanya bertolak belakang dengan prinsip koperasi sebagaimana lazimnya, misalkan setelah uang masuk, kami para petani pemberi kuasa, tidak lagi dilibatkan, dia jalan terus sendirian dengan orang - orangnya, kemudian proses pencairan uang pun tidak melibatkan bendaharanya," kata salah seorang perwakilan petani yang tidak ingin disebutkan namanya, beberapa waktu lalu.

Sebagaimana diketahui sebelumnya, pihak koperasi itu sempat mencairkan dana dari sebuah bank di Peureulak, senilai ratusan juta rupiah, diduga proses itu tanpa sepengetahuan bendaharanya, dan diduga juga bukan hasil musyawarah dengan para petani penerima manfaat tersebut. 

Setelah menuai protes keras dari sejumlah petani dan diberitakan awak media, akhirnya pihak bank itu pun memblokir rekening kedua koperasi tersebut, dengan tujuan, memberi ruang penyelesaian masalah antara pihak koperasi dengan para petani yang otomatis disebut sebagai anggotanya. Musyawarah yang dilakukan beberapa bulan lalu itu pun melibatkan sejumlah pihak, diantaranya pihak bank dan pihak Dinas Pertanian dan Perkebunan Kab.Aceh Timur. 

Tak lama waktu berselang, sekitar beberapa minggu kemudian, para petani yang tidak puas itu pun diisukan melakukan konsolidasi dengan agenda melengserkan ketua koperasi tersebut dari jabatannya. Namun hingga kini, polemik seputar uang Rp.16 miliar tersebut terus berlangsung kian semraut, kedua belah pihak diketahui saling mempertahankan pendiriannya, konon kabarnya ketua koperasi itu pun enggan mundur dari kedudukannya yang empuk.

" Saya tidak mau mundur, ini juga hak saya, saya sudah bertahun - tahun memperjuangkan mengurus koperasi ini sendirian dari nol, kenapa begitu berhasil dan begitu ada uangnya, jadi ribut, padahal kami sudah bersedia adakan musyawarah dan mengakomodir keinginan mereka, ada notulen rapatnya, tapi tetap saja ada masalah, jadi ya saya jalan terus, karena ini tanggungjawab saya," ungkap ketua koperasi itu kepada media ini beberapa waktu lalu.

Menurut informasi berkembang, dalam beberapa hari kedepan, sejumlah perwakilan petani bersama kuasa hukumnya, berencana mendatangi dinas koperasi dan dinas perkebunan untuk melayangkan surat bernada protes yang berkonten sejumlah penyimpangan yang dilakukan pihak koperasi selama ini.

" Ya kami akan datang ke sana, jadi supaya tidak dibodoh - bodohi lagi, kami tunjuk kuasa hukum kami yang bertindak mewakili kami berpendapat," ungkap sumber lainnya.

Sementara itu di pihak lain, menginginkan persoalan yang berkepanjangan ini diselesaikan melalui jalur hukum, agar mendapat kepastian hukum di dalamnya.

" Sebaiknya tempuh jalur hukum saja biar jelas, biar penegak hukum yang bekerja, siapa yang kena ya itu resikonya," sebut sumber anonim tersebut. 

Program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) merupakan upaya pemerintah untuk mengembangkan perkebunan kelapa sawit rakyat dengan melakukan penggantian tanaman tua atau tidak produktif dengan tanaman baru sesuai dengan prinsip-prinsip GAP (good agricultural practices).(RX)

Komentar Anda

Berita Terkini