|

Politeknik Kutaraja dan BPBD Banda Aceh, Simulasi Tanggap Bencana dan Kebakaran

Penyampaian Instruktur BPBD saat memberikan materi di Politeknik KutaRaja.


REPORTASEGLOBAL.COM  - Bencana bisa datang kapan saja. Tidak ada seorang pun tahu kapan bencana itu terjadi. Meskipun dapat diprediksi, namun sesungguhnya bencana itu adalah rahasia ilahi. Seperti halnya banjir, gempa bumi, tsunami, dan kebakaran. 

Datangnya bencana seringkali membuat panik siapa saja, tak terkecuali petugas Badan Penanggulangan Bencana sekalipun, meski hal ini sebenarnya cukup wajar. Namun tidak bisa dipungkiri, justru kepanikan semacam ini kadang malah menimbulkan banyak korban jiwa.

Demikian dikatakan salah seorang instruktur Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Banda Aceh, saat memberikan materi pada kegiatan simulasi tanggap bencana dan kebakaran di Kampus Politeknik Kutaraja kemarin, Jumat, (09/08/2019).

Kegiatan ini diadakan dengan maksud untuk mengenalkan para mahasiswa, dosen, dan seluruh warga kampus, agar mengetahui tindakan apa yang harus mereka lakukan pada terjadinya bencana atau kebakaran serta bagaimana mengatasinya. Sehingga ketika hal itu tiba-tiba terjadi maka semuanya bisa dalam keadaan siap siaga. 

Acara yang dibuka Direktur Politeknik Kutaraja, Supriyanto SP. MSi, tersebut dihadiri mahasiswa, dosen, security, pejabat Poltek, dan petugas dari BPBD Kota Banda Aceh, sebagai mitra kegiatan simulasi. 

Dalam kata pembukaannya, Supriyanto mengatakan, Indonesia tergolong negara yang rawan bencana atau ring of fire (cincin api). Penyebabnya, karena Indonesia berada pada lempengen (patahan) yang bila terjadi pergeseran maka akan menghasilkan gempa. 

"Hal ini dikarenakan posisi Indonesia dikepung oleh tiga lempeng tektonik dunia, yakni Lempeng Indo-Australian, Eurasia dan Lempeng Pasific . Apabila ketiga lempeng tektonik itu bertemu, dapat menghasilkan tumpukan energi yang memiliki ambang batas tertentu." kata Supriyanto. 

Apalagi, Aceh yang pernah mengalami gempa dahsyat dan tsunami pada tahun 2004 lalu yang menelan ratusan ribu korban jiwa dan ribuan lainnya terluka dan hilang patut menjadi pelajaran. Sehingga paska terjadinya bencana besar tersebut, masyarakat perlu lebih waspada dan meningkatkan kesiap-siagaan. 

Lebih lanjut Supriyanto menjelaskan, gedung Politeknik Kutaraja sendiri dirancang memenuhi aspek keamanan terhadap gempa dan bahkan struktur dengan tiga lantai dapat pula dijadikan sebagai escape building tempat evakuasi bila tsunami terjadi. 

Menanggapi tawaran tersebut, pihak BPBD Banda Aceh menyambut positif dan memberikan apresiasi. Namun untuk maksud tersebut pihaknya harus mengkaji lebih dahulu secara lebih detil dan komprehensif. Setelah diperoleh hasil kajian, baru kemudian dapat diputuskan apakah memenuhi standar atau tidak untuk menjadikan Gedung Politeknik Kutaraja sebagai salah satu tempat evakuasi tsunami. 

Dalam pelatihan sehari itu, para peserta mendapatkan banyak pengetahuan dan informasi baru yang bermanfaat terkait kebencanaan dan kebakaran. Instruktur dari BPBD yang sudah sangat berpengalaman, menjelaskan semua materi dan teknik penanganan saat darurat (emergency) dengan sangat baik. Disampaikan Oleh  Hamdani SE, MSi,  kepada Media ini via Whatsapp, Sabtu 10 Agustus 2019.(MN)
Komentar Anda

Berita Terkini