|

Pasca Penyanderaan Jenazah Bayi, Rumah Sakit di Aceh Timur Harus Manusiawi

Riski Maulidin S.Kep.


REPORTASEGLOBAL.COM  - Aktivis Front Anti Kejahatan Sosial (FAKSI) Aceh, Rizki Maulidin, S.Kep,Ners, menanggapi berita yang sempat viral di berbagai media terkait penahanan jenazah bayi di salahsatu RS terkemuka di Kabupaten Aceh Timur. Menurutnya, pasca kejadian tersebut, seluruh RS di Aceh Timur harus lebih manusiawi dan mengedepankan prinsip kemanusiaan.

" Sebagai milenial Aceh Timur, yang juga berprofesi sebagai perawat, saya sangat menyayangkan hal tidak manusiawi itu terjadi, mestinya pihak RS menunjukkan rasa pri - kemanusiaan yang tinggi,' kata Rizki, Jumat 30 Agustus 2019.

Menurut Rizki, seharusnya pihak RS mampu membangun komunikasi yang baik dengan pihak pasien, demi menghindari hal yang tak diinginkan.

" Contohnya kasus kemarin, tidak etis jika yang ditahan adalah jenazahnya, kan ada baiknya dibicarakan dengan keluarga/penanggungjawab, bagaimana caranya jenazah bisa dibawa pulang dulu, dan terkait administrasi, apakah nanti akan ditanggung BPJS atau dibayar pribadi oleh keluarga ya itu urusan belakangan, atau jika takut keluarga tidak mau membayar, mungkin bisa dengan menahan sesuatu barang berharga yang nilainya kurang lebih sama dengan biaya  perawatan sebagai jaminan," cetus aktivis yang pernah terlibat advokasi pemecatan puluhan karyawan RS di Aceh Timur beberapa waktu lalu.

Dia juga menghimbau masyarakat untuk   dapat memahami pentingnya kerjasama yang baik antara RS dan pihak pasien, serta mampu menjaga kepercayaan yang diberikan.

" Kepada masyarakat juga kita berharap bisa lebih kooperatif jika ada masalah seperti ini, terkadang juga masyarakat bila diberi kepercayaan tidak kooperatif, atau malah mempersulit RS, karena ini juga bisa menjadi pemicu yang akhirnya membuat RS menetapkan aturan tanpa kompromi, dan terkesan tidak manusiawi" ungkap Rizki.

Dia berharap kasus tersebut tidak terulang lagi di kemudian hari, dan dapat menjadi pelajaran bagi semua pihak, khususnya pihak RS.

" Alhamdulillah setelah mediasi masalah tersebut sudah ada titik temu dan sudah dapat terselesaikan dengan win - win solution. Semoga kasus ini bisa menjadi pelajaran untuk setiap RS, agar kedepan bisa lebih bijak dalam membuat kebijakan," tandasnya.(***)







Komentar Anda

Berita Terkini