|

Lemkaspa : Polisi Harus Bertanggungjawab atas Pemukulan Sejumlah Mahasiswa

Ketua Lembaga Kajian Strategi dan Kebijakan Publik (Lemkaspa) Kota Lhokseumawe, Lukmanul hakim.SE, 


REPORTASEGLOBAL.COM  - Ketua Lembaga Kajian Strategi dan Kebijakan Publik (Lemkaspa) Kota Lhokseumawe, Lukmanul hakim.SE, mengecam aksi pemukulan terhadap sejumlah mahasiswa yang berdemo di gedung DPRA, yang dilakukan oknum aparat kepolisian yang bertugas mengamankan aksi tersebut.

" Tindak kekerasan yang dilakukan oknum aparat terhadap mahasiswa itu merupakan aksi anarkisme, kita menuntut pihak berwajib  bertanggungjawab," kata Lukman, melalui rilisnya kepada Reportase Global, Jumat dini hari, 16 Agustus 2019.

Lukman sangat menyayangkan terjadinya insiden yang berujung pada penangkapan sejumlah mahasiswa tersebut.

" Mereka menuntut direalisasikannya butir - butir MOU Helshinky, harusnya hasil unjuk rasa tersebut disampaikan ke Jakarta, bukan malah mereka yang ditangkap," papar Lukman.

Menurut Lukman, para mahasiswa tersebut bukanlah pelaku kejahatan seperti premanisme.

" Mereka bukan preman atau provokator, meraka ini alarm bagi rakyat yang belum merasakan bagaimana indahannya perdamaian," ujarnya.

Selanjutnya, dia mendesak pihak kepolisian untuk segera membebaskan para demonstran yang tertangkap tersebut.

" Aparat mesti segera membebaskan mereka, jika tidak ingin terjadinya gejolak yang lebih besar lagi," tegas Lukman.

Pihaknya juga mendesak, agar para pelaku pemukulan tersebut diproses hukum.

" Kapolda dan Kapolresta Banda Aceh, harus bertanggung jawab atas perbuatan bawahannya  itu," sebut Lukman.

Sebelumnya diberitakan, demo menuntut realisasi isi perjanjian damai yang digelar mahasiswa di Banda Aceh, Aceh berakhir ricuh. Lima mahasiswa diamankan polisi.

Aksi unjuk rasa yang diikuti mahasiswa dari beberapa kampus di Aceh berlangsung di Gedung DPR Aceh, Kamis (15/8/2019). Demo ini digelar bertepatan dengan peringatan 14 tahun Aceh damai.

Dalam aksinya, mahasiswa mencoba mengibarkan bendera bulan bintang, tapi dicegah polisi yang berjaga. Bendera ini sudah disahkan DPR Aceh sebagai bendera Aceh, namun belum disetujui oleh pemerintah pusat.

Massa sempat bertemu dengan anggota DPR Aceh dan mempertanyakan persoalan bendera belum dikibarkan. Aksi pertama berakhir pada siang.

Menjelang sore, mahasiswa kembali menggelar aksi. Namun demo tersebut berakhir ricuh. Lima orang mahasiswa diamankan untuk dimintai keterangannya.

"Ya (diamankan). (Mereka) dimintai keterangan terkait unjuk rasa yang ricuh tadi," kata Kapolresta Banda Aceh Kombes Trisno Riyanto saat dimintai konfirmasi detikcom, Kamis (15/8/2019).

Menurut Kapolres, demo yang digelar mahasiswa tidak mengantongi izin dari polisi. Para mahasiswa dalam aksinya sempat mencoba mengganti bendera merah putih dengan bintang bulan.

Polisi yang berjaga mencegahnya. Aksi dorong-dorongan terjadi hingga berakhir ricuh. Trisno menjelaskan lima mahasiswa yang diamankan diduga melakukan pelemparan dan memprovokasi.

"Kami masih melakukan pemeriksaan dalam rangka penyelidikan untuk menentukan ada tidaknya tindak pidana dalam kegiatan tersebut, paling tidak 24 jam," jelas Trisno.(***)




Komentar Anda

Berita Terkini