|

Telat Bayar, Utang ke Fintech Melonjak dari 5 Juta jadi 20 Juta

Ilustrasi



REPORTASEGLOBAL.COM - Dua korban perusahaan layanan financial technology atau fintech pinjaman online dengan didampingi pengacara LBH Solo Raya mendatangi Mapolres Kota Surakarta, Sabtu petang pekan lalu.

Para korban itu berinisial SM warga Sukoharjo dan AZ warga Karangayar dengan didampingi pengacara LBH Solo Rata, Tur Murniningsih dan Made Ridho Ramadhan melaporkan telah diteror oleh fintech karena telat membayar utang. Di Mapolres tersebut, kedua korban masuk di Unit 5 Satuan Reskrim untuk menyerahkan tambahan barang bukti dan saksi.

Menurut pengacara LBH Solo Raya Tur Murniningsih pihaknya datang ke Polresta Surakarta sebetulnya hendak melapor menyerahkan tambahan barang bukti, dan saksi yakni SM serta AZ. Kedua orang ini, juga menjadi korban dengan modus yang sama seperti sebelum pinjaman online melalui aplikasi.

"SM dan AZ awalnya belum bisa membayar, dan akhirnya juga diteror sama seperti korban sebelumnya YI warga Solo," kata Tur.

Tur menjelaskan, SM awalnya ditawari pinjaman melalui online sebanyak Rp 5 juta. Dalam perkembangannya, SM telat membayar utang tersebut, dan dikenai bunga berbunga oleh fintech tersebut. 

Dalam waktu dua bulan sejak pinjaman cair, utang SM melonjak dari Rp 5 juta menjadi Rp 20 juta. Sedangkan, AZ yang meminjam uang Rp 2 juta harus mengembalikan pinjaman sebesar Rp 10 juta dalam tempo satu bulan.

LBH Solo Raya mendatangi ke Polresta Surakarta untuk menyerahkan bukti tambahan untuk korban YN, sedangkan dua korban lainnya ini, akan dijadikan saksi, sedangkan bukti tertulisnya berupa screen shoot video dari handphone-nya. "Rekaman yang akan dijadikan barang bukti itu, suara percakapan saat penagihan utang terhadap korban," kata Tur.

Namun, karena penyidik yang menangani Unit 2 Satreskrim sedang libur, proses pengajuan laporan menjadi tertunda. Para korban diminta mengajukan laporan secara tertulis untuk penambahan bukti itu, untuk diserahkan, pada hari ini, Senin, 29 Juli 2019.

Pengacara LBH Solo Raya lainnya, Made Ridho Ramadhan menambahkan korban perusahaan layanan fintech pinjaman online sebenarnya ada tujuh orang termasuk YI, SM dan AZ. Namun, baru tiga orang yang meminta pendampingan bantuan hukum. Empat korban lainnya, kata Made, sebenarnya sudah melaporkan untuk pendampingan bantuan hukum ke LBH, tetapi mereka belum bersedia untuk dipublikasikan.

Kendati demikian, pihaknya masih membuka Posko untuk pengaduan korban pinjaman online. Masyarakat dipersilahkan yang akan mengadukan ke LBH Solo Raya, di Sentral Niaga Solo Baru Sukoharjo.

Sebelumnya, YI, warga Solo, Jawa Tengah yang menjadi korban pencemaran nama baik yang dilakukan oleh perusahaan layanan fintech pinjaman online membantah berita soal dirinya yang sudah menjadi viral di media sosial itu.

Menurut Pengacara LBH Solo Raya, Gede Sukadenawa Putra semua informasi soal YI  yang diviralkan itu, bohong atau hoax. Fintech diduga melakukan pencemaran nama baik, atau pelecehan terhadap kehormatan wanita, termasuk pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM).

"Jadi semua kami tembusi agar masalah ini, bisa terungkap dan klien kami tidak benar menawarkan diri seperti dalam viral itu. Klien kami tidak benar bahwa dirinya menawarkan diri seperti yang diberitakan di media sosial itu," kata Gede.

Oleh karena itu, pihaknya berharap para fintech pinjaman online ke depan dapat ditindak oleh aparat yang berwewenang. Bahkan, yang memaparkan atau menyebarkan itu, harus dicari untuk ditindak pidana sesuai proses hukum yang berlaku karena melakukan pencemaran nama baik dengan menyebarluaskan berita bohong. 

ANTARA

Komentar Anda

Berita Terkini