|

YARA Dampingi Wartawan Korban Penganiayaan Aparat Terkait BBM Ilegal Lapor Propam

Kuasa Hukum, Muhammad Zubir SH, Muzakir SH, Basri dan Samsol Bahri, korban MI, 



REPORTASEGLOBAL.COM - Yayasan Advokasi Rakyat Aceh (YARA), mendampingi wartawan korban penganiayaan berisial MI, warga Desa Dalam, Kecamatan Karang Baru, Aceh Tamiang, dalam kasus penganiayaan yang dilakukan oleh oknum Polisi, ke Polres Aceh Tamiang pada Sabtu 02 Juni 2018.

Kuasa hukum korban, Muhammad Zubir SH, mengungkapkan, pihaknya sudah melaporkan Tindak Pidana Penganiayaan (TPP), ke SPKT Polres Aceh Tamiang kemarin, Sabtu (02/6/2018) dengan Nomor Laporan (LP). STBL/38/V/2018/SPKT.

" Selanjutnya, besok juga akan kita laporkan secara etik ke Propam Polres Aceh Tamiang, jadi dua laporan yang kita buat ke Polres Aceh Tamiang, dengan kasus yang sama," ungkap Zubir kepada Reportase Global.

Atas laporan itu, Zubir berharap pihak penegak hukum segera memproses para pelaku secara hukum yang berlaku.

" Tidak pandang bulu siapa pelakunya, agar menjadi pelajaran untuk kita semua, bahwa setiap pelaku kejahatan tidak ada yang kebal hukum, artinya setiap pelaku kriminal akan mendapatkan hukuman yang setimpal dengan kejahatan yang ia lakukan," tegas Zubir.

“Begitu juga dengan Laporan ke Propam, agar dapat ditindak sesuai etik yang berlaku di institusi tersebut. Kita mengharapkan agar semua dapat di proses secara profesional, agar menjadi pembelajaran bagi kepolisian dalam bertugas, tidak terkesan asal-asalan, memukul dan menganiaya masyarakat seenaknya saja," pungkas Zubir.

Sebelumnya, di hadapan Kuasa Hukumnya, Muhammad Zubir SH, Muzakir SH, Basri dan Samsol Bahri, korban MI, mengaku, insiden penganiayaan itu terjadi pada tanggal 28 Mei 2018 malam, pukul 22.00 WIB, bertempat di Jalan Sriwijaya, Kota Kuala Simpang, tepatnya di sebelah kantor Satlantas Kuala Smpang.

Menurut korban, saat itu dirinya sedang melaksanakan tugas profesinya sebagai jurnalis, melakukan investigasi terhadap sebuah mobil pick-up yang diduga membawa bahan minyak mentah ilegal dari sumur minyak ilegal, Ranto Pereulak, Aceh Timur  menuju Sumatera Utara.

Pada saat korban sedang melintasi jalan Sriwijaya, korban berininsial MI (22Thn), yang ditemani Sulaiman (21Thn), menyetop mobil L300 Pick - up tersebut yang tidak jauh dari Polsek Kota Kuala Simpang. 

Ketika mobil tersebut berhenti,  MI pun memakirkan sepeda motornya, namun mobil yang diduga mengangkut BBM ilegal tersebut kembali berupaya kabur. Melihat gelagat itu, korban pun spontan saja kembali mengejar mobil mencurigakan itu ke arah Desa Minuran, Kecamatan Kejuruan Muda, lalu mobil tersebut pun terpaksa kembali berhenti tepatnya di depan kantor PDIP.  

Kemudian terjadi percakapan antara korban dengan sopir mobil pick - up mencurigakan tersebut, kira - kira sebagai berikut :

Korban : Pak mohon izin, dari mana dan mau kemana? 
Sopir     : Dari Langsa mau ke Sumatera Utara.
Korban : Kalau saya boleh tahu, bapak membawa minyak apa?
Sopir     : Saya bawa minyak konden dari Langsa ke Sumatera Utara (kata sopir sambil megang Hp)

Lalu korban kembali meminta izin agar diperbolehkan naik ke atas mobil tersebut, untuk mengetahui jumlah minyak yang dibawa dan bermaksud hendak mengambil foto. Saat itu, sang sopir pun mengizinnkannya. Namun, saat korban hendak naik ke atas untuk mengambil bukti dokumentasi, tiba - tiba datang seseorang yang mengaku oknum polisi bersama seorang wanita, langsung membentak korban dengan nada keras.

Lantas korban pun melakukan perlawanan dan berkata ' Saya kan wartawan, menjalankan tugas sosial kontrol saya untuk meliput,' namun upaya korban tersebut malah membuatnya langsung digiring ke Polsek Kota Kuala Simpang untuk diambil keterangan.

Setiba di halaman Polsek Kota Kuala Simpang, oknum yang mengaku polisi tadi berteriak kencang dengan ujaran " Woi ini wartawan tersangka," ujar oknum tersebut kepada rekannya yang diduga sesama oknum polisi sebagaimana disaksikan korban dan rekannya.

Mendengar teriakan itu, datanglah beberapa orang yang diduga oknum polisi berpakaian preman, langsung memiting leher korban sangat keras. Akibat mendapat perlakuan tidak menyenangakan itu, korban pun berupaya melawan dan berujar " Aku wartawan, kenapa aku diperlakukan seperti ini," kata korban. 

Sementara oknum polisi tersebut menjawab " Banyak kali cerita kau," yang tidak lama kemudian korban dibawa ke dalam ruang Mapolsek.

Setiba di dalam Mapolsek, korban menuturkan, dirinya kembali mendapat penganiayaan di depan ruangan Reskrim tepat di depan ruangan sel.

" Saya kembali dianiaya, oknum polisi pun semakin ramai, oknum polisi memakai baju bebas yang memiting saya terus - terusan memiting saya, dan oknum mengaku polisi berpakaian preman, yang mengiring saya ke Polsek, datang langsung mengatakan ' Kau tidak ada apa - apanya sama keluarga aku, keluarga aku TNI semua, kau wartawan nggak ada apa - apanya sama aku,' ketus oknum tersebut sambil memukul dada korban.

" Setelah dari situ kondisi badan saya mulai lemas, saya meminta dengan bicara baik - baik, setelah di dudukkan di pos piket, oknum polisi semuanya meminta saya mengeluarkan KTA (kartu pengenal wartawan), saya mengeluarkan dan Sulaiman teman saya (saksi), saya suruh pulang untuk ambil surat tugas wartawan saya di rumah," terang korban.

MI mengungkapkan, dirinya sempat diajak berkeliling dengan mobil patroli untuk meliput kegiatan premanisme oleh pihak reserse Polres Aceh Tamiang. Usai melakukan kegiatan razia, mereka berhenti di sebuah warung kopi di Desa Tanah Terban, di sana dirinya ditraktir makan dan minum, namun korban mengaku menolak makanan, dan hanya menikmati minuman sekedar untuk menghargai.

Selanjutnya, korban dan rekannya Sulaiman, meminta agar diperbolehkan pulang. Korban juga sempat diantar temannya kembali ke Polsek untuk menjemput kendaraannya. 

Pada keesokan harinya, tiba - tiba korban merasa kesakitan di bagian leher, pusing dan dada sesak. Dan kemudian pukul 07.00 wib,  korban dilarikan ke RSUD Aceh Tamiang untuk diperiksa. Di RS tersebut, dokter meminta agar korban dirawat opname selama 2 hari.

“Atas kejadian tersebut saya mengalami pusing di kepala, dada sesak, dan leher sakit bekas di piting oknum polisi, juga trauma,” keluh MI.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak terkait, padahal kasus kekerasan dan pelecehan luar biasa terhadap Pers tersebut saat ini telah menjadi sorotan publik luas.(ReportaseGlobal.Com)

Komentar Anda

Berita Terkini