|

Diduga Dianiaya Oknum Polisi, Wartawan Investigasi BBM Ilegal Bakal ke Propam Polda

Muhammad Irwan


REPORTASEGLOBAL.COM - Muhammad Irwan, salah seorang wartawan media online di Kabupaten Aceh Tamiang, yang diduga dianiaya oknum polisi, segera melaporkan kasus penganiayaan terhadapnya itu ke Propram Polda Aceh, hal itu ia lakukan karena menurutnya sudah beberapa Polsek di Kuala Simpang, Aceh Tamiang, tidak menerima laporannya.

" Kami akan laporkan kasus pemukulan ini ke Propam, apakah ke Propram Polda Aceh atau ke Propam Polres Aceh Tamiang, tergantung hasil musyawarah dengan kuasa hukum nanti," ujar Muhammad Irwan, kepada Media Realitas, Jumat pagi (1/6/2018).

Setelah ada keputusan resmi dari kuasa hukum dirinya memastikan akan segera melaporkan para pelaku.

" Saya sangat kenal oknum yang memukuli saya, makanya saya akan laporkan kasus ini ke Propam Polda," urainya lagi.

Dia mengaku, rekannya di berbagai media di Aceh Tamiang, Banda Aceh dan Jakarta, mendesaknya agar segera melaporkan kasus ini ke Propam Polda, agar tidak terulang lagi terhadap wartawan lainnya.

Hingga kini, media ini belum mendapatkan keterangan resmi baik dari pihak pelaku maupun dari pihak kepolisian di Kabupaten Aceh Tamiang terkait dugaan penganiayaan tersebut.

Mulanya kejadian itu berawal ketika pada hari Senin malam (28/5/2018) sekira pukul 22.00 wib, wartawan online Warta Bhayangkara, Muhammad Irwan (25 tahun) didampingi temannya Sulaiman (24 tahun) melakukan peliputan atas dugaan bisnis bahan bakar minyak ilegal yang diangkut menggunakan mobil pick up Chevrolet.

Ketika melintas di jalan Medan - Banda Aceh, Kampung Minuran, Kecamatan Kuala Simpang, Muhammad Iwan menyetop mobil diduga mengangkut minyak ilegal tersebut.

Kemudian menurutnya, tiba-tiba muncul seseorang yang mengaku oknum polisi ( ZI) anggota Satlantas Polres Aceh Tamiang, membonceng seorang wanita cantik, langsung mencegah Muhammad Irwan untuk melakukan pekerjaan jurnalis, dan menggiringnya ke Kantor Polsek Kuala Simpang, Kecamatan Kuala Simpang, Kabupaten Aceh Tamiang.

“ Saya bertugas sebagai Kepala biro media online Warta Bhayangkara di Aceh Tamiang, sudah lama saya mencurigai maraknya bisnis BBM ilegal pasca terbakarnya sumur minyak di Aceh Timur, maka salah satu target peliputan saya terhadap truck dan mobil yang dicurigai mengangkut BBM ilegal, pas kebetulan lewat mobil pick up Chevrolet tersebut, langsung saya ikuti dan saya stop, TKP nya di kampung Minuran, Kuala Simpang, Sopirnya mengakui bahwa dalam mobil angkutannya berisi BBM ilegal," terang Irwan.

" Saat saya mau wawancara lebih lanjut, tiba-tiba muncul pemuda naik sepeda motor membonceng cewek cantik, dengan nada keras langsung melarang saya untuk menjalankan tugas jurnalistik dan menggiring paksa kami ke Polsek kota Kuala Simpang, salah seorang anggota Polsek yang ikut bersikap tidak sopan saya baca namanya (SY),  memakai baju biasa, yang piket ikut mengkiting leher saya sangat lama, ada beberapa  orang oknum Polisi tersebut yang saya kenali wajahnya terlibat mengasari saya,” demikian keterangan Kabiro media Warta Bhayangkara kepada wartawan.

Muhammad Irwan menambahkan, setiba di Polsek yang berjarak sekira 1 kilometer dari TKP, Oknum yang mengaku polisi tersebut berteriak ada oknum wartawan sudah jadi tersangka, dan mereka mencekik dengan cara memiting leher serta beberapa orang lainnya memegang tangan dan dibawa ke dalam polsek, memukuli dada dan bagian perut Muhammad Irwan.

Kemudian Muhammad Irwan dan Sulaiman diinterogasi secara terpisah oleh kelompok orang–orang yang mengaku Polisi tersebut. Tak hanya Irwan, rekannya Sulaiman pun mengaku mendapat perlakuan tidak pantas saat itu.

”Sopir pembawa BBM ilegal turut hadir ke Polsek malam kejadian itu juga, dan sekarang saya tidak tahu kemana barang bukti dugaan BBM Ilegal serta mobil pengangkutnya,barang bukti dan supir beserta mobilnya langsung dilepaskan," jelasnya.

" Ketika di Kantor Polsek saya diperlakukan seperti teroris, oknum yang mengaku polisi menghina profesi wartawan dan melontarkan kata-kata, kamu tidak ada apa-apanya, karena keluarga sayaa tentara semua, sambil memukul dada dengan nada melotot dan dengan nada keras," terang Irwan.

" Saya sangat bingung dengan situasi ini, ketika kami menjalankan fungsi sosial kontrol, ada oknum yang mengaku polis, melarang dan berbuat brutal kepada saya,“ ungkap Irwan kepada wartawan.

Irwan mengaku, setelah dianiaya, sempat dibawa berkeliling dengan mobil patroli.

" Sebelum dilepas, kami berdua sempat dibawa keliling dengan mobil patroli Resmob dan ditraktir makanan dan minuman di warung tanah terban, selanjutnya sekitar pukul 01.00 WIB, Selasa (29/5/2018) saya kembali ke Polsek dan diultimatum agar tindak kekerasan dan perbuatan menghalangi jurnalis melakukan peliputan tidak berkembang kemana-mana," ungkap Muhammad Irwan meniru perkataan oknum polisi tersebut.

Kuli Tinta ini akhirnya terbaring opname di RSUD Aceh Tamiang, selama dua hari, bagian lehernya sakit dan sulit digerakkan, diduga akibat dipiting oknum Polisi, sedangkan bagian perut serta dadanya sakit akibat dipukuli di kantor Polsek.

“Saya akan serahkan perkara ini kepada kuasa hukum untuk membuat pengaduan dan keadilan hukum sesuai peraturan perundang - undangan yang berlaku," ujar Muhammad Irwan. ( Red )

Komentar Anda

Berita Terkini