|

Amir Hasan Al Mujahid : Pemberontakan Mereka Melahirkan Daerah Istimewa Aceh

Amir Hasan Al Mujahid (Acang) Putera bungsu Tokoh Revolusi Aceh, Tgk. Amir Husein Al Mujahid.

REPORTASEGLOBAL.COM - Sebuah keputusan gila dibuat penguasa melalui Undang-Undang No. 5 tahun 1950. Aceh dilebur ke dalam Provinsi Sumatera Utara.

Keputusan ini sangat mengejutkan Tgk. Daud Beureueh dan rakyat Aceh saat itu. Karena merasa telah dikecewakan dan dikhianati atas jasa dan pengorbanannya yang begitu besar kepada NKRI, dan berarti pula bahwa Bung Karno telah mengkhianati janjinya kepada Abu Daud pada Juni 1948, Pergolakan pun terjadi, situasi di Aceh memanas. 

Sejumlah tokoh seperti Ayah Gani, pernah terlibat dalam gerakan DI/TII Daud Beureu'eh, bersama Hasan Saleh dan Tgk. Amir Husein Al Mujahid. 

Periode perang Aceh jilid II dimulai pada tahun 1953, melibatkan semua rakyat Aceh dari semua golongan, baik langsung maupun tidak langsung. 

Perang yang dipimpin Tgk. Daud Bereueh ini dikenal dengan sebutan pemberontakan Darul Islam/ Tentara Islam Indonesia(DI/TII)Aceh.Mengakibatkan 4000 putera Aceh menjadi syuhada.

Untuk menyelesaikan masalah ini, Aceh kembali menjadi provinsi melalui Undang - Undang otonomi daerah dan Prof. Ali Hasjmy diangkat menjadi gubernur. 

Konsepsi prinsipil  yang bijaksana yang dijalankan KDMA dan Gubernur Aceh melahirkan Ikrar Lam Teh antara RI dan DI/TII untuk menghentikan perang.

Kemudian, Wakil Perdana Menteri Hardi bersama sejumlah pejabat pusat ke Aceh pada tanggal 23 Mei 1959, dan menghasilkan persetujuan antara lain, aparat DI/ TII diterima dalam Kodam I Iskandar Muda, rehabilitasi sosial dan ekonomi dan pemberian status Daerah Istimewa kepada Provinsi Aceh, semua butir kesepakatan ini dilaksanakan missi Hardi. Keputusan Perdana Menteri RI No. 1/Missi/1959 tentang pemberian status Daerah Istimewa kepada Provinsi Aceh dalam tiga bidang ; agama, peradatan dan pendidikan.

Sementara kelompok DI/TII Tgk. Daud Beureueh, baru bersedia turun gunung setelah Panglima Kodam I/Iskandar Muda Kol. M. Jassin selaku Penguasa Perang Daerah ( Peperda) mengeluarkan keputusan tentang kebijaksanaan melaksanakan Unsur -Unsur Syariat Islam bagi Pemeluk -Pemeluknya di Daerah Istimewa Aceh.

Kini, semangat perjuangan yang dimiliki para pejuang - pejuang legendaris Aceh itu menjadi inspirasi bagi generasi penerus bangsa ini, khususnya rakyat Aceh. 

Hal senada juga diungkapkan Amir Hasan Al Mujahid, putera bungsu dari tokoh revolusi sosial Aceh, Tgk. Amir Husein Al Mujahid yang dikenal sebagai rekan seperjuangan Tgk. Daud Beureueh.

Kepada Reportase Global, Amir Hasan Al Mujahid mengisahkan banyak hal tentang sosok ayahnya yang dikenal kharismatik dan sangat mencintai tanah airnya itu.

" Pemberontakan mereka melahirkan Daerah Istimewa Aceh, setelah penandatanganan Ikrar Lam Teh, dan ayah saya terlibat didalamnya," kata Amir Hasan kepada media ini beberapa waktu lalu.

Bagi Amir Hasan, Tgk. Amir Husein Al Mujahid merupakan sosok pribadi jenius dan luar biasa dengan kharisma yang terkesan melekat sangat erat dalam dirinya.

" Beliau sangat berkharisma dan sangat disegani masyarakat, ya namanya orang berkharisma, dia lewat aja terkadang bisa bikin orang lain berhenti, begitulah kiranya, seperti kata Pak Abdullah Puteh juga lah," ujar warga Aceh Tamiang yang akrab disapa 'Yah Cang' ini.

 Dia menjelaskan, Tgk. Amir Husein Al Mujahid sangat erat hubungannya dengan Tgk. Daud Beureueh masa itu. Menurut dia, ada segudang prestasi yang merupakan buah dari pengabdian Tgk. Amir Husein Al Mujahid terhadap Aceh.

" Beliau pernah diangkat sebagai pimpinan tambang Sumatera Utara dan Aceh atas perintah Abu Daud Beureueh, bahkan demi mengamankan aset negara dari rongrongan PKI," kenangnya.

Menurut Amir Hasan, ayahnya merupakan sosok tegas yang tidak mengenal kompromi terhadap penjajah. Hal itu ditandai dengan berbagai bentuk perlawanan dan penolakan atas bermacam kemauan Belanda saat itu.

" Beliau dibujuk dan dirayu Belanda agar menandatangani serta mengakui bahwa sejumlah aset - aset Aceh dan sumut itu menjadi milik perusahaan pemerintah Belanda, tapi beliau dan kawan - kawan seperjuangannya  menolak. Padahal daerah - daerah lain di Indonesia sudah menyerahkannya, beliau tidak mau menyerahkan aset negara yang menjadi cikal bakal Pertamina itu kepada Belanda," kata Amir Hasan.

Setelah masa kemerdekaan indonesia di era 70an, Amir Hasan mengatakan, ayahnya banyak terlibat dalam dunia sosial dan politik di Aceh.

" Waktu kelas 3 SD, saya pernah diajak kampanye, kan beliau penasehat  NU, saat itu NU kan Parpol peserta pemilu, ibu saya di PSII , ya Partai Serikat Islam Indonesia, ingat tu, Jangan salah tulis, jangan ditulis PSSI pula," sebut Amir Hasan bergurau.

Namun keduanya diketahui selalu bersama - sama. " Ibu saya di PSII, beliau di NU,  tapi saat itu mereka bisa 1 podium,yang lainnya udah ditangkap, seperti Ismail Ben, Hasballah Hanafiah, Usmanuddin bapaknya mantan Bupati Azman, mereka ditangkap karena nggak boleh kampanye, karena penguasa ingin memenangkan pemilu saat itu," terangnya.

Menurut Amir Hasan, ayahnya memiliki semangat juang yang tinggi dan sikap sangat  moderat , terutama dalam kehidupan keluarganya.

" Waktu mau berontak, beliau bicara dan bertanya pada ibu saya, Hj.Tengku Mariani. 'Saya mau berontak, pemerintah pusat sudah mengkhianati Aceh. Tengku mau dimana, mau di Kuala Lumpur atau di jakarta atau di Medan," ungkap Amir Hasan menggambarkan sikap moderat ayahnya itu.

Mujurnya, sikap itu bahkan berbalas dengan  bukti kesetiaan sehidup dan semati dari sang istri kepada suaminya tersebut.

" Ibu saya lebih pilih ikut perjuangan ayah, bahkan dua anak mereka, Drs. Zainal arifin dan Cut Sarah faridah, lahir dalam perjuangan di tengah hutan saat itu," kata Amir Hasan.

Selain itu, sosok Tgk. Amir Husein Al Mujahid menurut anaknya tersebut, juga sangat menaruh perhatian terhadap dunia pendidikan dan kemajuan peradaban masyarakat, khususnya di Aceh.

" Beliau banyak mendirikan pesantren dan dayah - dayah, juga sekolah umum , contohnya SMA Cut Meutia dan SMP Islam di Idi, semuanya  demi kepentingan bangsa ini," ungkapnya.

Tak hanya itu, hal lain yang tak kalah menariknya dari pribadi Tgk. Amir Husein Al Mujahid menurutnya adalah, sisi kejenakaan sosok tersebut dengan candaan - candaan penuh kecerdikan yang sangat menggelikan dan  berkesan bagi siapapun yang mengaguminya.

" Ini yang saya alami sendiri ya, contohnya saja dulu, saya pernah kedapatan melempar lembu dengan batuan kerikil, lalu ayah saya bilang saya salah, nggak boleh melempar lembu itu, sebab binatang itu tidak salah, terus nggak lama saya dan saudara laki -laki saya dikasih seutas tali, singkatnya, kami tangkap itu lembu, kami beri makan dan rawat seperti milik sendiri"

" Eh taunya malam, si pemilik dan kepala kampung datang ke rumah, mereka laporin perbuatan kami, sebelumnya si pemilik sudah yakin itu lembunya, mereka ingin ambil kembali. Ayah saya malah jawab, mana ada lembu bapak di sini, yang ada lembu Tuhan," kata Amir Hasan menjelaskan tentang sikap ayahnya saat itu yang membingungkan semua orang.

Menurut Amir Hasan, tidak semua orang dapat dengan mudah memahami maksud setiap perbincangan dengan Tgk. Amir Husein Al Mujahid, termasuk candaan - candaan cerdasnya yang menggelitik. Kesan dari kejenakaan dan kecerdikan sosok legendaris Aceh ini juga dibenarkan Rektor Unsyiah dalam acara peluncuran buku Tgk.Amir Husein Al Mujahid di Kampus Unsyiah beberapa waktu lalu.

" Saya dan mereka bingung, ternyata yang di maksud ayah sebagai lembu tuhan itu karena nggak jelas pemiliknya siapa," ujar Amir Hasan menjelaskan kata -kata ayahnya yang tidak mudah ditebak itu.

Dia juga mengungkapkan pesan moral dari sosok ayahnya itu. Menurut dia Tgk. Amir Husein Al Mujahid sosok yang memiliki rasa ketulusan yang sangat tinggi di sepanjang sejarah hidup terutama perjuangannya.

" Kata beliau kalau berjuang jangan berharap balas jasa, kalau mau mengabdi ya mengabdi aja, itu pesan moral yang sangat kuat dari beliau. Dan beliau mengatakan, bagi yang ingin ambil balasan di dunia silahkan ambil di dunia, yang mau ambil di akhirat juga silahkan, tapi saya mau ambil di akhirat saja," pungkas Amir Hasan menirukan dan mengisahkan sosok ayah yang sangat dicintainya itu."(rg1)
Komentar Anda

Berita Terkini