|

Secercah Harapan Pengrajin Garam Lokal, Ditengah Langkanya Garam Medan

Produk garam loka, Aceh Selatan.
REPORTASEGLOBAL.COM - Kelangkaan garam pasca lebaran di Kabupaten Aceh Selatan sangat dirasakan oleh masyarakat negeri penghasil pala itu. Pasalnya, garam yang dipasok dari Provinsi Sumatera Utara itu pasca lebaran tidak dikirim karena alasan produksi.

Hal tersebut membuat masyarakat kembali harus mengkonsumsi garam olahan​ pengrajin lokal di kecamatan Kluet Utara.

Salah seorang pengrajin​ garam lokal Kecamatan Kluet Utara, Marhaban (45) mengatakan, selama terjadinya kelangkaan garam di kabupaten Aceh Selatan, garam lokal olahannya habis terjual di pasaran.

"Selama pasokan garam dari Medan tidak ada, garam olahan kami laku terjual dan mengalami peningkatan harga," ujarnya saat dijumpai wartawan di Lancang Sira (dapur garam) desa Pasie Asahan kecamatan Kluet Utara, Sabtu (15/7/2017).

Marhaban menjelaskan, produksi garam lokal terus dilakukannya hampir 30 tahun lamanya walaupun sepi pembeli dan berharga sangat murah.

"Garam ini kami produksi sejak saya masih kanak-kanak, namun seiring adanya pasokan dari Medan, membuat garam kami jadi kurang laku dan juga berharga sangat murah," ucapnya.
Marhaban (45) Perajin garam saat memasak garam

Diakuinya, sebelum terjadi kelangkaan garam, harga garam lokal ini berkisar sekitar Rp. 7000 per bambunya, sehingga tidak dapat mengimbangi lamanya proses pembuatan dan bahan bakarnya.

"Kami memasak air laut hingga menjadi garam membutuhkan waktu lima jam lebih, paling dalam sehari yang dapat kami produksi hanya 14 kg saja, sehingga kalau harganya sangat murah dan tidak ada penampung, maka garam tersebut tidak laku dan belum dapat memenuhi kebutuhan kami sehari-hari," tambahnya.

Di lokasi pengolahan garam tersebut, terlihat ada tiga dapur untuk memasak air laut menjadi garam, namun hingga saat ini tidak ada pembinaan atau pemberdayaan dari pemerintah setempat untuk menambah produktivitas garam lokal yang tentunya menjadi kebutuhan masyarakat di Kabupaten Aceh Selatan.
Para pengunjung dan pembeli berpoto di depan lancang Sira (dapur garam) Marhaban

Marhaban mengharapkan adanya perhatian pemerintah baik peningkatan sumber daya manusia atau pemberdayaan sehingga produksi garam lokal ini tetap berlanjut dan dapat memenuhi kebutuhan masyarakat di kabupaten Aceh Selatan khususnya.

"Kami di sini belum pernah mendapatkan pelatihan pembuatan garam, ini yang dilakukan secara turun temurun, dari keluarga dan secara tradisional, sehingga hal tersebut sangat kami harapkan dilakukan pemerintah, sehingga kita tidak lagi bergantung pada garam luar, apalagi sumber daya alam kita ada," tutupnya. (safdar)
Komentar Anda

Berita Terkini