|

Get Response Faundation Aceh : Produksi Garam Lokal Mandirikan Daerah

Ketua Get Response Faundation Aceh Teuku Maulizar (Topi Putih) beserta warga setempat Hamdani Abdullah ( pakai sarung) saat mengunjungi Lancang Sira (dapur garam) di desa Pasie Asahan kecamatan Kluet Utara Aceh Selatan, Minggu (16/7/2017).(Safdar S)

REPORTASEGLOBAL.COM - Para pelaku usaha produksi garam lokal di Desa Pasie Asahan, Kecamatan Kluet Utara, Aceh Selatan, mendapatkan sedikit angin segar pasca terhentinya sementara pasokan garam yang dipasok dari provinsi Sumatra Utara, hal ini di sampaikan oleh ketua Yayasan Get Response Faundation Aceh, Teuku Maulizar kepada wartawan di Kota Fajar Minggu (16/7/2017).

"Saat ketiadaan pasokan garam pabrikan, barulah mereka merasakan kelayakan dari harga garam yang mereka produksi," ujarnya.

Menurut pegiat sosial muda asal Kota Fajar yang juga ikut menyambangi langsung lancang sira (dapur memasak garam) ini, jika situasi pasokan garam dari kota Medan normal, mereka menjual garamnya hanya seharga Rp. 7.000/bambu, namun saat ini hasil kerja keras mereka naik ke harga yang pantas, yakni Rp. 20.000/bambu.

Pun demikian lanjutnya, apa yg mereka tengah nikmati saat ini belum tentu akan bertahan lama, mengingat para pengusaha pastinya akan kembali mendatangkan garam dari daerah tetangga dan persaingan harga akan menindas mereka.

"Saat kunjungan tersebut, kami dari Get Response Foundation  sedang berusaha bersama masyarakat Gampong tersebut untuk meningkatkan pendapatan warga setempat dengan konsep perencanaan Gampong sadar wisata "Gampong Sira", sehingga dengan pengembangan daerah tersebut menjadi daerah wisata produksi garam akan meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang proses pengolahan garam tradisional dan tentunya akan menambah pendapatan para usahawan produksi garam dan masyarakat sekitar," jelasnya.

Sementara itu, salah seorang warga desa Pasie Asahan, Hamdani Abdullah mengatakan, kunjungan yang dilakukan Get Response Faundation Aceh, menjadi penyemangat bagi pengrajin garam lokal di desa tersebut, dan dia berharap kunjungan ini dapat menjadi harapan untuk mereka bangkit.

"Menarik, kunjungan tim penyelamat harga garam tradisonal kemaren setidaknya dapat menjadi tempat bergantung harapan para petani itu untuk mereka bangkit," ujarnya.

Menurutnya, selama ini belum ada pihak yang memperhatikan nasib para pengrajin garam dengan cara tradisional tersebut, yang menurutnya hasil kerja mereka telah banyak membantu masyarakat sekitar Kluet Utara di  d tengah langkanya garam pabrikan dari provinsi  tetangga.

"toh selama ini belum ada orang yang menanyakan keluhan mereka, malah mereka (pengrajin garam) dengan keterbatasannya mampu meringankan keluhan orang lain dengan usaha mereka, mudah-mudahan dengan kunjungan kemaren menjadi awal untuk mereka bisa bangkit," harap pria yang juga pimpinan salah satu pondok pesantren di desa Pasie Asahan tersebut.

Sementara itu, Teuku Maulizar optimis dengan langkanya garam di kabupaten Aceh Selatan mampu  menjadi batu loncatan untuk kemandirian daerah tuan Tapa ini.

"Disini sangat dibutuhkan perhatian dari pemerintah untuk membina dan meningkatkan usaha produksi garam tradisional oleh masyarakat," pungkasnya.(safdar).
Komentar Anda

Berita Terkini