|

Terkait Permintaan Maaf Ketua PAKAR Aceh Timur, Fachrul Razi, MIP : Ya, Sudah Saya Maafkan





Senator Aceh, Fachrul Razi MIP


REPORTASEGLOBAL.COM - Sejumlah pengurus DPW PAKAR Se-Aceh, menyesalkan serta mengecam tindakan Khaidir, yang selama ini dipercaya pendiri PAKAR Aceh selaku Direktur DPP PAKAR Aceh. 

Khaidir diduga telah menyalahgunakan jabatannya untuk merusak nama baik PAKAR Aceh. 

Menyikapi permintaan maaf Ketua DPW PAKAR Aceh Timur, Hasballah, kepada Fachrul Razi, MIP selaku Pendiri PAKAR Aceh dan Ketua Yayasan PAKAR Aceh terkait pemecatannya, Fachrul Razi, MIP mengatakan, sudah memaafkan Hasballah sebagai Ketua DPW PAKAR Aceh Timur.

 "Sekarang Bulan Baik, tentu saya akan memberikan maaf kepada Hasballah," kata Fachrul Razi, Sabtu(27/5).

Fachrul menegaskan, setiap perbuatan harus dapat dipertanggungjawabkan, baik itu di ruang publik maupun kepada Allah SWT. 

"Saya yang didik mereka melalui lembaga yang saya dirikan, sehingga mendapatkan jati dirinya. Jika mereka memang benar-benar meminta maaf dengan iklas, tentunya saya terima. Namun dengan catatan, tidak diulangi lagi. Karena tindakan yang dilakukan dapat memberikan efek negatif di lapangan. Dan Ini menyangkut nasib dan masa depan orang banyak," Ujar senator Aceh itu.

Fachrul mengungkapkan rasa syukurnya, sebab selama ini memperoleh kesempatan  berpartisipasi membangun karakter dan semangat kepemimpinan bagi generasi muda Aceh.

" Alhamdulillah, selama ini saya fokus dan berhasil membangun gerakan generasi muda Aceh sebagai pemimpin muda masa depan, dan kita telah memiliki kader lebih 1000 orang. Dan ini akan terus bergerak masif untuk membuka pola berpikir dan membangkitkan semangat leadership dan character building anak - anak muda di Aceh melalui sekolah leadership dan bahasa yang saya bangun di Aceh," beber Fachrul.

Mantan juru bicara Partai Aceh itu memaparkan, dirinya mempercayai tokoh - tokoh muda di kepengurusan wilayah PAKAR Aceh, untuk membantu dirinya mewujudkan lahirnya generasi muda sadar politik dan hukum, serta menjadi pemimpin politik muda yang kritis, cerdas dan militan. 

" Saya Mendirikan PAKAR juga untuk melahirkan banyak aktivis sosial yang peka terhadap hak hak rakyat, untuk kami perjuangkan di lapangan sampai ke senayan. Jadi lembaga PAKAR Aceh yang saya bentuk ini, ada visi dan mimpi besar kedepan, dan kita punya konsepnya. Perlu dicatat, lembaga ini saya bentuk setelah saya sudah jadi anggota DPD RI. Kalau untuk tujuan pribadi saya buat apa lagi, sebab saya sudah jadi senator, kecuali kalau saya mau jadi senator itu lain masalah," terang senator peraih suara terbesar pada pemilu legislatif 2014 ini.

Fachrul menerangkan, dirinya telah memberikan banyak konstribusi yang dibutuhkan untuk berbagai keperluan membangun kader -kader muda potensial di Aceh.

" Bahkan gaji dan penghasilan saya berikan untuk kegiatan dan beasiswa PKPA, agar Mereka menjadi pengacara muda yang hebat. Dan ahamdulillah saya sudah memberikan 11 Kader PAKAR Aceh me beasiswa mengikuti PKPA," tukasnya.

Fachrul menambahkan, konstribusinya terhadap organisasi PAKAR Aceh bukanlah rahasia lagi, sebab menurut dia, hampir semua kader PAKAR Aceh tahu persis terkait apa saja yang pernah diberikan Fachrul kepada organisasi tersebut.

" Semua Kader PAKAR Aceh tahu, apa kontribusi saya buat PAKAR, dan siapa yang memperkuat serta membesarkan PAKAR Aceh selama ini. Dari nol kami bekerja dan mengembangkan sayap ke seluruh Aceh, menyiapkan kesekretaritan dan fasilitas kerja di DPP PAKAR di Banda Aceh. Bahkan tahun lalu di Langsa dan Bireun, kita ada kantor. Itu siapa yang support kalau bukan saya. Semua kader PAKAR tahu itu, karena kami terbuka.  Bahkan program bangun rumah dhuafa di Seunedon yang dilakukan teman-teman aktivis PAKAR Aceh Utara, juga bersumber dari kontribusi dan dana saya. Termasuk melaksanakan ratusan kegiatan sunatan massal di Aceh Timur. Bahkan kami berhasil melahirkan konsep Sekolah politik dan hukum dengan nama sekolah PAKAR, yang telah melahirkan 120 kader alumni di seluruh Aceh, dan telah kami wisudakan. Saya punya konsep dan mimpi Besar melahirkan pemimpin masa depan," tegas Fachrul.

Dia mengungkapkan, ada pihak diluar PAKAR Aceh yang berniat menghancurkan reputasinya dan merusak organisasi tersebut dari dalam. 

" Saya Sudah Membaca, ada pihak di luar PAKAR, yang Ingin menghancurkan saya dengan memanfaatkan beberapa oknum didalam PAKAR. Kami akan membalas itu. Bahkan Saya tahu, siapa di balik dia yang bermain Ingin hancurkan saya dan PAKAR," beber Fachrul lagi.

Fachrul juga menyesalkan banyaknya kejanggalan yang dia temukan diluar pengawasannya, terkait beberapa hal yang melanggar aturan dalam perjalanan organisasi tersebut.

" Yang sangat memalukan, ada pengurus, seorang sarjana hukum, tapi malah menandatangani surat yang melanggar hukum. Ini akan kami minta pertanggungjawabannya. Bahkan yang lebih aneh lagi, bagaimana mungkin memiliki jabatan tanpa SK dari Pendiri? Sepertinya, orang tersebut harus belajar berorganisasi dan belajar lebih banyak lagi," ungkapnya.

Dia sangat menyayangkan sikap kader PAKAR Aceh yang kontradiktif dan bersebrangan dengan cita -cita didirikannya organisasi tersebut.

" Kader PAKAR saya didik untuk kritis dan memperjuangkan aspirasi serta hak - hak rakyat Aceh. Bukan untuk mengeluarkan statemen menyerang pendiri demi kepentingan pribadi dan kepentingan orang diluar PAKAR Aceh. Ini ada apa? Saya tahu koq, siapa dibelakang Khaidir," tegasnya.

Fachrul melanjutkan, sebenarnya konsep awal berdirinya PAKAR Aceh sudah sangat ideal, yakni untuk menyerap aspirasi masyarakat agar dapat diperjuangkan di senayan.

" PAKAR kami bentuk untuk membantu kerja - kerja di lapangan, dalam rangka memperjuangkan aspirasi rakyat. Kami membutuhkan energi tokoh- tokoh muda untuk melakukan perubahan. Dan Hasil temuan atau laporannya kami perjuangkan di senayan. Itu konsep awal saya bentuk PAKAR Aceh," ungkap Fachrul.

Dia berharap, persoalan yang menjangkiti lembaga tersebut dapat menjadi pelajaran bagi dirinya, untuk lebih berhati- hati di kemudian hari.

"Semoga jadi pelajaran, saya harus berhati - hati lagi kedepan, dan semoga ada hikmah. Dalam politik, terkadang murid yang kita didik akan "meracuni" gurunya.  Allah maha kuasa dan maha pemilik kebenaran, dan kebenaran akan menang.  Ingat, "diatas langit ada langit", tandas Fachrul Razi menutup keterangannya.(***)
Komentar Anda

Berita Terkini