|

Setelah Ditelantarkan Guru, Kepsek SD Lambaro Keluarkan Murid Penderita Sakit Lambung

Ilustrasi


REPORTASEGLOBAL.COM - Kepala Sekolah Dasar ( SD) Negeri Lambaro, Indra Zahari MPd, mengeluarkan salah seorang murid di sekolahnya, usai terjadinya pertengkaran antara pihak sekolah dan orang tua murid tersebut.

Mulany kasus ini berawal, ketika seorang murid Sekolah Dasar (SD) Negeri Lambaro Angan, IAN (7) dikeluarkan dari sekolah itu sejak 27 April lalu. Pengeluaran murid SD itu diduga kuat karena cekcoknya antara orang tua murid dengan kepala sekolah tersebut.

Sebagaimana dilansir dari Serambi, Jumat (5/4) , Abdullah orang tua IAN mengatakan, putrinya memiliki riwayat penyakit lambung dan sering masuk angin. Pada Jumat, 21 April 2017 lalu, penyakit anaknya kambuh saat sedang belajar. “Guru di kelas saat itu membawa putri saya ke ruang guru,” ujarnya.

Hingga bel tanda pelajaran selesai berbunyi, lanjutnya, IAN dibiarkan saja duduk di ruang guru tanpa diobati. Wali kelasnya juga tidak memberitahu orang tua bahwa IAN sedang sakit. “Hingga istri saya datang menjemput, IAN menangis di balik pagar sambil memegang perutnya,” kata Abdullah.

Karena kecewa dengan pihak sekolah, Abdullah akhirnya bertemu Kepala SD Indra Zahari pada Rabu (26/4). “Saya katakan ini yang pertama dan terakhir saya lapor ke sekolah, kalau ke depan terjadi lagi maka saya akan lapor pihak berwajib,” ujar Abdullah, dan meyakini akibat ucapannya itu Kepsek tersinggung dan mengeluarkan putrinya dari sekolah pada 27 April.

Kepala SDN Lambaro Angan, Indra Zahari MPd yang dikonfirmasi kemarin mengatakan, tidak ada sedikit pun niatnya untuk mengorbankan murid tersebut. Menurutnya, wali murid yang telah membentak-bentak para guru dan merendahkan institusi yang dipimpinnya.

“Saya bilang maaf, kami tidak bisa mendidik anak bapak lagi. Saya berikan surat pindah agar IAN bisa belajar di sekolah yang lebih baik,” ujar Indra. Dia mengatakan, meskipun setuju dengan keputusan sekolah itu, Abdullah tetap saja menjelek-jelekkan sekolah itu ke berbagai instansi pemerintah dan sekolah lainnya.

Komisioner dari Komisi Pengawasan dan Perlindungan Anak (KP2A) Aceh, Firdaus D Nyak Idin mengatakan, konflik antar orang dewasa sebaiknya tidak mengorbankan anak. “Komunikasi guru dan orang tua harus lebih bijak dan santun serta mengedepankan kepentingan anak,” harapnya, dan menyebut Ombudsman Aceh dan KP2A sedang menangani kasus itu.***


Komentar Anda

Berita Terkini