|

Direktur YARA : Usut Dugaan Penggelapan Rumah Dhuafa Oleh Plt Bupati Bener Meriah

Salah satu diantara beberapa unit rumah bantuan bagi kaum dhuafa yang diduga berdiri diatas tanah disebuah ladang kopi milik Plt Bupati Bener Meriah, Rusli M Saleh, di Desa Sayeng, Kecamatan Pintu Rime Gayo, Kabupaten Bener Meriah.

REPORTASEGLOBAL.COM - Direktur Yayasan Advokasi Rakyat Aceh (YARA), Safaruddin SH, mendesak aparat penegak hukum mengusut tuntas dugaan penggelapan beberapa unit rumah bantuan bagi kaum dhuafa di Desa Sayeng, Kecamatan Pintu Rime Gayo, yang berasal dari dana Otsus 2013, yang diduga dilakukan Plt Bupati Bener Meriah, Rusli M Saleh, ketika dirinya masih menjabat sebagai Wakil Bupati Bener Meriah beberapa tahun silam.

" Usut tuntas, atas nama siapa penerimanya, apakah mereka punya surat kepemilikan atas lahan yang di bangun rumah tersebut ? Sebab, rumah bantuan pemerintah tidak boleh dibangun diatas lahan yang bukan milik penerima rumah," tegas Safar kepada Reportase Global.Com, Rabu malam ( 26/4).

Ketika dikonfirmasi media ini, Plt Bupati Bener Meriah, Rusli M Saleh, membantah kepemilikan sejumlah rumah bantuan bagi kaum dhuafa yang dibangun di beberapa titik di ladang kopi di desa Sayeng, Kecamatan Pintu Rime Gayo, Kabupaten Bener Meriah, sebagai miliknya.

" Apa sudah pasti di ladang saya? tidak harus di ladang saya, rumah orang itu. Ada di ladang kita , tapi kita kasih dan bangun supaya bersatu tidak berjauhan, dan dibuat satu tempat disitu, listrik pun enak masuk, kan gitu," kata Rusli, saat dihubungi  Reportase Global.Com melalui telpon selulernya, Rabu malam (26/4), sekitar pukul 20.30 WIB.

Rusli mengakui, sejumlah rumah permanen yang berlokasi di ladang kopi itu, memang berasal dari dana Otsus 2013 yang merupakan program bantuan rumah bagi kaum dhuafa, namun menurut Rusli beberapa unit rumah tersebut bukan miliknya dan tidak berdiri di tanah miliknya.

" Emang kenapa ? Rumah itu memang rumah bantuan, tapi bukan milik saya dan bukan pun berdiri di ladang kopi saya semua itu, hanya kebetulan disamping ladang saya," ungkap Rusli.

Rusli menjelaskan bahwa penghuni setiap rumah yang dibangun dengan nilai sekitar Rp, 60 juta per unit tersebut, merupakan masyarakat miskin yang tidak memiliki rumah sebelumnya dan berpenghasilan dari berladang disekitar lokasi tersebut.

" Bukan milik saya itu, Ada banyak penghuninya disitu, ada suratnya sama mereka, silahkan datang dan cek saja kesana, hanya orang kira itu punya saya, itukan orang yang sakit hati sama saya aja palingan ngomong begitu," ujar Rusli.

Menurut Rusli, pihaknya sengaja mengumpulkan para penerima bantuan untuk membangun rumah disekitar lokasi tersebut agar tidak tidak tinggal berjauhan dan terpencil.

" Saya anjurkan rame -rame bangun disitu dulu, itu sengaja kita kumpulkan disitu berdekatan, supaya tidak jauh - jauh, sebab banyak rumah -rumah itu yang sudah dibangun, kalau penghuninya pergi atau pulang kampung, atap rumah atau perkakas lainnya hilang dicuri orang, banyak itu rumah disitu sudah dicuri orang atapnya," terang Rusli.

Dia mengungkapkan pernah memberikan sedikit tanah bagi masyarakat miskin penerima bantuan tersebut untuk dapat membangun rumah dan tinggal di lokasi tersebut.

" Ya ada memang yang kita kasih tanah agak serante untuk mereka tinggal disitu, ya kita kasih sedikit gak apa - apalah, biar berkumpul mereka dan jangan rusak rumahnya, cuma kita ingatkan, jangan ada perjanjian jual beli, "  Ungkap Rusli.

Selanjutnya Rusli mengungkapkan pihak kepolisian sendiri pernah mengungkap kecurigaan publik, terkait dugaan bahwa dirinya telah membangun sejumlah rumah tersebut menjadi miliknya dari dana bantuan bagi kaum dhuafa, namun Rusli mengungkapkan semua dugaan itu terbantahkan.

" Itu malah pernah diperiksa polisi sebelumnya, tapi tidak terbukti, nanti silahkan saja datang dan di cek kesana, benar tidak itu milik saya," Ungkap Rusli.

Rusli mempersilahkan awak media untuk mengecek kebenaran informasi terkait rumah bantuan yang diduga dibangun di tanah miliknya itu.

" Silahkan cek boleh koq dilihat itu. Tanya yang punya rumah itu, boleh untuk saya gak rumah bantuan itu, kalau itu milik saya, tangkap saya, " tegas Rusli.

Sebelumnya berdasarkan informasi yang berhasil dihimpun, tim investigasi Reportase Global  atas keberadaan beberapa unit rumah di beberapa titik di ladang kopi di desa Sayeng, Pintu Rime Gayo, yang disebut -sebut berasal dari dana bantuan rumah bagi kaum dhuafa yang berasal dari anggaran Otsus 2013, diduga pemilik sejumlah rumah beton type 36 itu adalah Plt Bupati Bener Meriah, Rusli M Saleh, yang kala itu masih menjabat sebagai Wakil Bupati Bener Meriah.

Beberapa unit rumah yang hingga saat ini belum jelas jumlah pastinya tersebut, terletak di beberapa titik berjauhan di ladang kopi yang diakui Rusli M Saleh, hanya bersebelahan dengan tanah dan Villa yang dilengkapi kolam ikan serta ladang kopi miliknya di desa tersebut.

Sebagian dari rumah tersebut terlihat kosong tak berpenghuni dan ada juga rumah yang sempat dikunjungi dan penghuninya diajak berbincang oleh tim investigasi Reportase Global.

Salah seorang penghuni rumah yang sempat berbincang dengan tim Reportase Global, yang identitasnya dirahasiakan, mengakui bahwa rumah yang dia tempati bersama keluarganya itu, merupakan milik Plt Bupati Bener Meriah Rusli M Saleh.

" Saya asal Lampung, rumah ini milik pak Rusli, " terang ibu yang terlihat memiliki satu orang anak berusia sekitar 3 tahunan itu.

Sementara itu, di seberang jalan setapak didepan 1 unit rumah bantuan dhuafa yang terletak di desa Sayeng tersebut, tim Reportase Global melihat, terdapat sebuah bangunan sederhana yang disebut Villa, yang dilengkapi sebuah kolam ikan milik Rusli M saleh.

Rusli sendiri saat dikonfirmasi mengakui, bahwa bangunan yang sering disebut Villa tersebut berasal dari rumah warga yang ia beli dimasa eksodus warga ketika konflik Aceh meletus.

Sedangkan sebagian ladang kopi miliknya dengan luas sekitar 15 hektar di lokasi itu merupakan warisan dari orang tua Rusli sendiri.

" Villa itu benar milik saya, tapi bukan dari rumah bantuan, itukan dasarnya dari rumah warga semasa konflik, mereka tawarkan jual ke saya dulu, saat itu saya masih di dinas pendidikan, tapi kalau ladang kopi itu warisan orang tua kitalah itu," ujar Rusli .

Pada akhir keterangannya, Rusli kembali mempersilahkan awak media datang dan mengecek langsung kebenaran terkait kepemilikan sejumlah rumah bantuan di lokasi itu. 

" Panggil mana orang yang kurang senang itu, mereka kan suka ngomongin yang jelek-jeleknya aja, suruh buktikan mana rumah bantuan yang milik saya disitu?" tegas rusli menutup keterangannya. (RG1)
Komentar Anda

Berita Terkini