|

Petugas Medis Muyang Kute Usir Pasien


Pasien terpaksa dipulangkan dari Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Muyang Kute Kabupaten Bener Meriah, akibat mogok massal dokter dan perawat dirumah sakit tersebut, Jumat (3/3). Sehingga rumah sakit tutup dan terhenti untuk pelanyanan kesehatan. SERAMBI/MUSLIM 


REPORTASEGLOBAL.COM - Petugas medis RSUD Muyang Kute, Kabupaten Bener Meriah, mengusir puluhan pasien RSUD Muyang Kute akibat adanya aksi mogok massal yang dilancarkan seluruh staf dan karyawan termasuk dokter dan perawat, Jumat (3/3) pagi.

Keluarga pasien terlihat sibuk mengevakuasi anggota keluarganya yang sedang dirawat di rumah sakit. Setelah itu, seluruh ruangan di rumah sakit kosong, bahkan ada beberapa ruangan yang sudah digembok dari luar.

Beberapa petugas medis sebagaimana dilansir Serambi mengatakan, aksi mogok seluruh dokter spesialis, staf rumah sakit terjadi sebagai akibat dari kosongnya stok obat di rumah sakit. Selain itu, seluruh staf termasuk dokter dan perawat juga belum menerima gaji selama beberapa bulan, termasuk dana jasa medis dari BPJS.

“Dalam beberapa bulan terakhir ini kami tidak mendapatkan gaji, bahkan (jasa medis) BPJS pun tidak ada. Gaji untuk tugas jaga malam juga tidak ada, terlebih lagi stok obat-obatan kosong. Bagaimana mungkin kami bisa memberikan pelayanan terhadap pasien,” kata seorang staf rumah sakit yang menolak disebutkan namanya.

Menurutnya, gaji petugas medis dan karyawan di RSUD Muyang Kuter sudah menunggak sejak Oktober 2016 hingga Maret 2017. “Bukan tidak ikhlas dalam melayani masyarakat, tapi sebagai pelayan masyarakat kami juga harusnya mendapatkan hak kami,” kata dia.

Disebutkan, berbagai cara telah ditempuh guna mengatasi masalah tersebut seperti melakukan rapat internal, tetapi tidak mendapatkan solusi yang konkret. “Kami memohon maaf kepada seluruh masyarakat Bener Meriah yang tidak nyaman dengan keadaan ini, karena dengan cara inilah jalan terakhir kami untuk mendapatkan hak-hak kami,” terangnya.

Seorang warga yang ditemui di RSUD Muyang Kute, Syamsuddin, mengungkapkan kekecewaan terhadap aksi mogok para medis dan staf rumah sakit yang berimbas pada lumpuhnya pelayanan pasien. “Ini tidak bisa dibiarkan, saya selaku warga Bener Meriah merasa malu dengan kejadian ini. Bayangkan saja jika ada pasien yang harus dirawat secara intensif dan orang yang harus mendapatkan penanganan darurat. Kemana mereka harus berobat?,” kata Syamsuddin.

“Seperti dokter dan perawat, mereka itu disumpah jabatannya karena mengemban profesi mulia ini, di mana sumpahnya untuk membaktikan hidupnya guna kepentingan kemanusiaan di atas kepentingan pribadinya. Ini kan aneh, seolah-olah mereka tidak bertanggung jawab,” ujar Syamsuddin. (Serambi)

Komentar Anda

Berita Terkini