|

Kapolri : Isu Penculikan Anak " Hoax "


Foto: Istimewa


REPORTASEGLOBAL.COM - Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian menyatakan, kabar penculikan anak yang beredar melalui pesan singkat berantai serta di dunia maya, tidak benar atau hoax. Kabar tersebut beberapa waktu terakhir beredar di sejumlah wilayah di Tanah Air.

“Saya yakinkan dan sudah cek, di Sumatera Utara dan beberapa wilayah lain termasuk Jakarta, berita tersebut adalah berita hoax,” ujar Kapolri di Mabes Polri, Jakarta, Kamis (23/3).

Salah satu pesan berantai tersebut menyebutkan bahwa ada penculikananak di Jalan Haji Nawi, Jakarta Selatan, Minggu (19/3) lalu. Pesan itu menyebutkan, pelaku berpura-pura gila saat ditangkap.

Menurut Tito, penyebar isu penculikan anak sengaja memanfaatkan momentum keramaian Pemilihan Kepala Daerah untuk menaikkan isu tersebut. Tujuannya, selain menimbulkan keresahan di tengah masyarakat, juga ingin mendelegitimasi wibawa pemerintah.

“Saya selaku pimpinan kepolisian menyatakan tegas, sepanjang sepengetahuan saya dan para kepala kepolisian daerah, semuanya menjawab dan telah melakukan pengecekan, dan menjawab tidak ada,” kata dia.

Tito mengimbau, agar orangtua tidak perlu khawatir dengan isu yang beredar. Meski demikian, ia tetap meminta masyarakat waspada dan tidak mudah percaya dengan kabar hoax. “Jangan over reaktif dan menjadi panik. Klarifikasi dengan kepolisian, dengan warga di sana, betul atau tidak informasi tersebut sebelum mencerna informasi,” ujarnya.

Dari Meulaboh dilaporkan, pihak Polres Aceh Barat mulai mengusut informasi palsu (hoax) yang tersebar di media sosial (medsos) terkait kasuspenculikan anak di Aceh Barat. Polisi akan memeriksa akun facebook yang menyebarkan isu tidak benar tersebut yang telah berdampak meresahkan masyarakat.

Sebelumnya, Kabagpenum Divisi Humas Polri Kombes Martinus Sitompul mengatakan, Polri akan usut penyebar pesan berantai yang mengatakan ada modus baru penculikan anak, yaitu berpura-pura menjadi orang gila. Akibat pesan ini, beberapa orang dengan gangguan kejiwaan sempat diamuk massa.

“Itu pasti ya. Mereka-mereka yang menyebar info itu akan kami usut,” ujar Martinus di kompleks Mabes Polri, Senin (20/3) lalu.

Sementara itu, sepanjang hari kemarin, wartawan Serambi di beberapa daerah melaporkan adanya sejumlah peristiwa kekerasan terhadap orang-orang yang dituduh atau diduga akan melakukan penculikan.

Salah satunya terjadi di Aceh Barat, di mana seorang penderita gangguan jiwa kembali menjadi korban amuk massa yang dikaitkan dengan isupenculikan anak di Aceh Barat, Rabu (22/3) malam.

Di Aceh Tenggara, polisi bahkan sampai harus melepaskan tembakan ke udara untuk menghentikan amuk warga terhadap Ritua Harahap (30), warga asal Sumatera Utara yang singgah untuk meminta minum di rumah salah satu warga, di Desa Lawe Rakat, Kecamatan Lawe Sigala-gala, Aceh Tenggara, Selasa (22/3) malam lalu. Amuk warga ini dipicu teriakan ibu pemilik rumah yang kaget dengan kedatangan Ritua Harahap ke rumahnya, malam itu.

Sementara di Aceh Utara, Warga Keude Blang Ara, Kecamatan Kuta Makmur, Aceh Utara, Rabu (22/3) sore, menangkap dua pria asal Medan karena isupenculikan anak. Kedua pria itu ditangkap karena dua kali bolak-balik di kawasan itu hingga membuat warga curiga. Setelah diperiksa, ternyata kedua pria itu tersesat atau salah arah sepulang dari rumah sepupu mereka.

Ini merupakan peristiwa keempat terjadi di wilayah Aceh Utara dan Lhokseumawe dalam dua minggu terakhir. Dalam tiga kasus sebelumnya, orang yang dicurigai sebagai penculik ternyata belakangan diketahui orang yang mengalami gangguan jiwa atau stres.(kompas.com/nal)
Komentar Anda

Berita Terkini