|

Abdullah Saleh : " Beubrang Chit Si Gam nyoe, " Itu Ada Sebabnya

Ketua Komisi A DPRA, Abdullah Saleh.


REPORTASEGLOBAL.COM - Setelah disomasi YARA, terkait status facebooknya yang dinilai melanggar hukum, Ketua Komisi A DPRA, Abdullah Saleh menyatakan, bahwa pernyataannya di medsos itu tidak ia lontarkan dengan maksud menuai keributan seperti saat ini.

" Saya tidak bermaksud bikin status di facebook terkait Askhalani itu untuk buat masalah, " kata Abdullah Saleh, saat dihubungi Reportase Global.Com melalui telpon selulernya, Jumat sore, (24/3) pukul 18.11 WIB.

Dia menjelaskan, Kalimat yang menyebabkan dirinya disomasi itu juga dilontarkannya, lantaran selama ini, Askhalani ia nilai sangat keras melancarkan serangan kritik pedas yang terkesan selalu memojokkan DPRA, terutama terkait penolakan DPRA atas pelantikan sejumlah pejabat baru oleh Gubernur Aceh, Zaini Abdullah beberapa waktu lalu.

" Saat DPRA menolak para pejabat baru itu, Askhalani malah menuduh kami ingin mengamankan kepentingan terkait dana Aspirasi, " ujarnya.

Namun Abdullah Saleh menjelaskan, dirinya tidak bermaksud memancing keributan baru yang berkepanjangan terkait postingannya di facebook dalam Grup Abdullah Saleh itu.

" Ya mereka , Gerak dan YARA, dan juga para wartawan yang sering kritik kami itu semua, kan adik - adik saya juga. Mungkin nanti saya akan upayakan penyelesaian secara kekeluargaan , bahkan kalau memungkinkan sambil nongkrong di warung kopi, " kata Abdullah Saleh menutup keterangannnya.

Askhalani, SHi, Koordinator GeRAK Aceh, melalui Kuasa Hukumnya, Safaruddin dari Yayasan Advokasi Rakyat Aceh (YARA), menyampaikan keberatan dan peringatan keras terhadap Abdullah Saleh, atas Postingan Status Facebook di Grup Abdulah Saleh Forum tertanggal 21 Maret 2017 pada jam 18.00 WIB.

Menurut Askhalani, postingan status facebook Abdullah Saleh disimpulkan adanya perbuatan melawan hukum yang menyebabkan hak klien kami merasa harkat dan martabatnya, serta adanya unsur kesengajaan yang disengaja untuk membandingkan klien kami dengan makhluk dan/atau binatang tertentu (Beubrang cit sigam nyoe).

Penyampaian “Beubrang cit sigam nyoe” yang dalam bahasa Indonesia berarti “Berang-berang Juga silelaki ini” dinilai telah menyamakan klien kami seperti hewan berang-berang, inilah yang membuat klien kami merasa dihina dan nama baiknya dicemarkan.

YARA menilai status facebook itu sudah cukup terpenuhi adanya unsur tindak pidana dan aspek melawan hukum terkait Pencemaran Nama Baik sebagaimana diatur berdasarkan UU No. 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (“UU ITE”), dan unsur penghinaan berdasarkan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (“KUHP”).

YARA ikut menyertakan isi pesan facebook yang disebutnya milik Abdullah Saleh: “Gerak Aceh Askhalani bersama Akhiruddin Mahjuddin tim sukses Zaini Abdullah yang sedang bekerja meraup keuntungan diakhir masa kerja Zaini Abdullah. Selama menjadi tim sukses Akhiruddin merasa manis lalu melibatkan anak buahnya Askhalani di GeRAK untuk menyerang DPRA untuk bela2. Beubrang Cit Sigam nyoe” beserta dengan foto atas nama sdr Askhalani.

Dalam Somasinya YARA juga menyertakan UU ITE, pencemaran nama baik diatur dalam pasal 27 ayat (3) jo pasal 45 ayat (1), yang masing-masing dikutip sebagai berikut:

Pasal 27 ayat (3):
“Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya informasi elektronik dan/atau dokumen elektronik yang bermuatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik”.

Pasal 45 ayat (1):
”Setiap orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud dalam pasal 27 ayat (1), ayat (2), ayat (3), atau ayat (4) dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan/atau denda paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu milyar rupiah)”.

YARA menambahkan, dalam kitab Undang-undang hukum Pidana (KUHP) tentang unsur dan materi penghinaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 310 Ayat (1) KUHP, yang dikutip sebagai berikut: “Barang siapa dengan sengaja menyerang kehormatan atau nama baik seseorang dengan menuduhkan sesuatu hal, yang maksudnya terang supaya hal itu diketahui umum, diancam karena pencemaran dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah”.

“Berdasarkan ketentuan Pasal 27 ayat (3) UU ITE tersebut diatas, pencemaran nama baik dengan cara menayangkan postingan melalui sarana media sosial Facebook telah terpenuhinya unsur “membuat dapat diaksesnya informasi elektronik dan/atau dokumen elektronik” sehingga termasuk perbuatan pidana, dan/atau sebagaimana dalam ketentuan Pasal 310 Ayat (1) KUHP yang dapat dibuktikan unsur-unsur dan materi penghinaan.”

Terakhir, YARA menyatakan bahwa “berdasarkan fakta-fakta diatas, kami atas nama kuasa hukum Askhalani, SHI dengan ini meminta saudara untuk dapat mencabut isi postingan facebook tersebut sebagaimana bukti-bukti yang kami miliki, serta kami mendesak saudara Abdullah Saleh wajib untuk melakukan upaya permintaan maaf secara langsung dan melalui sarana media komunikasi lain baik cetak maupun elektronik selama 3 hari berturut-turut dibeberapa media terbitan dalam Provinsi Aceh, dan/atau melalui facebook tempat sdr memposting status tersebut.”

“Demikian Somasi ini kami sampaikan, dan kami menunggu tanggapan dari sdr Abdullah Saleh paling lama 4 hari kerja sejak tanggal surat ini dikirimkan, jika somasi ini di abaikan maka kami akan menempuh jalur hukum,” tulis kuasa hukum, Safaruddin, SH. (Sandi)
Komentar Anda

Berita Terkini