|

Politik Momentum Tommy Suharto


Foto : Istimewa

REPORTASEGLOBAL.COM - Salah satu keunggulan sistem demokrasi dibandingkan sistem lain adalah memberi kesempatan kepada setiap orang untuk muncul ke permukaan dengan segala potensinya. 

Sehingga jangan heran, kalau di era demokrasi ini tiba-tiba muncul seseorang menjadi pemimpin yang sebelumnya tidak pernah kedengaran kemampuannya. Itulah politik, semua serba kemungkinan.

Dalam suatu kesempatan berdiskusi perihal demokrasi, muncullah konsep “Politik Momentum”. 

Suatu kondisi, dimana seorang mampu dan cerdas memanfaatkan situasi dan waktu yang tepat untuk muncul ke permukaan mewakili arus pergerakan massa yang didukung oleh masyarakat pada umumnya. 

Konsep ini menjadi menarik, karena politik dan momentum tidak bisa dipisahkan.

Setiap peristiwa politik pasti ada momentum yang mengikutinya. Karena itu, salah satu penentu kemenangan dalam perebutan kekuasaan adalah kejelian memanfaatkan momentum yang tepat. 

Di sisi lain, sehebat dan selincah apa pun seorang politisi kalau tidak mampu memanfaatkan politik momentum, dia sulit mendapatkan peran dalam dunia politik.

Setiap presiden,  tidak terkecuali di negeri ini, lahir karena kemampuannya memanfaatkan politik momentum. 

Soekarno muncul ketika memanfaatkan momentum saat seluruh rakyat yang terjajah membutuhkan pemimpin yang bisa mempersatukan seluruh elemen masyarakat untuk merdeka. Soeharto muncul ketika memanfaatkan momentum pemberotakan PKI. Begitu pula Jokowi muncul ketika memanfaatkan momentum saat rakyat merindukan sosok pemimpin yang merakyat.

Dalam konteks kekinian, sejak kasus penistaan agama mencuat, negara kalau dianalogikan sebuah kapal besar, sedang oleng dilanda badai besar yang kalau tidak hati-hati bisa saja tenggelam.

Sebagian orang menganggap negara tidak mampu memberikan rasa keadilan kepada mayoritas umat Islam, karena sang penista agama belum ditahan. Bahkan yang terjadi adalah upaya melakukan kriminalisasi kepada ulama. 

Ini kemudian memicu timbulnya rasa kolektivitas sosial yang sama di kalangan umat Islam pada umumnya. Sejenis perasaan memiliki nasib dan tanggungjawab serta nilai-nilai moral yang sama untuk bersatu membela ulama dan Islam melawan ketidakadilan.

Contohnya beragam cara dilakukan untuk menjebak Imam besar FPI Habib Rizieq Shihab. Sejak menggelindingkan Aksi Bela Islam I dan II, Habib Rizieq menjadi isu global yang membuat miris kalangan tertentu.

Karena itu, Sang Habib terus diburu, dan beberapa hari yang lalu Polda Jawa Barat sudah menetapkan tersangka Habib Rizieq Shihab atas tuduhan penghinaan pancasila. 

Belum cukup sampai disitu, kembali disudutkan dengan isu perselingkuhan dengan seorang perempuan bernama Firsa Husain. Entah bentuk kriminalisasi apa lagi yang akan muncul kalau isu perselingkuhan ini tidak mempan menyurutkan langkah umat Islam menuntut sang penista agama di tahan.

Nah, ditengah situasi semakin menguatnya persatuan mayoritas umat Islam untuk membela ulama dari ketidakadilan inilah, seorang Tommy Soeharto sudah tidak kuat lagi menahan diri, dan harus muncul kepermukaan memanfaatkan momentum membela sang Habib.

Dalam acara di I News TV beberapa waktu lalu Tommy Soeharto menentukan sikap, “Siapapun yang mengganggu FPI dan para ulama itu sama saja membangkitkan umat Islam dan akan berhadapan dengan aku (Keluarga Cendana).”

Kalau Tommy konsisten berdiri di depan membela sang Habib yang terbukti mampu mengumpulkan jutaan massa pada aksi damai 212, maka Tommy bisa menjadi ikon baru perjuangan mayoritas umat Islam menuntut penegakan keadilan di negeri ini. 

Itu berarti Tommy akan mendapat dukungan dari mayoritas umat Islam negeri ini. 

Sekarang politik momentum sudah di tangan Tommy, apakah mampu mengelolanya sebagai waktu yang tepat untuk muncul ke permukaan melanjutkan dinasti Cendana, atau justru hanya memilih bersuara di media sosial.

Ada dua alasan pentingnya Tommy memanfaatkan politik momentum ini. Pertama, bisa menjadi simbol perjuangan mayoritas umat Islam yang terpinggirkan di negerinya sendiri. Kedua, bisa mengobati kerinduan sebagian rakyat terhadap kepemimpinan Soeharto.  

Ayo mas Tommy jangan sia-siakan momentum ini. (Salam damai tiada akhir)

Penulis : Direktur Sipil Institut ( Ruslan Ismail Mage )

Komentar Anda

Berita Terkini