|

AGORAPHOBIA 112


Foto: Istimewa


REPORTASEGLOBAL.COM - Seiring dengan perjalanan umur dunia yang semakin tua, jumlah agama dan aliran kepercayaan semakin terpecah berkeping menjadi sangat banyak.

Jika agama telah terpecah menjadi banyak sekte, maka aliran-aliran kepercayaan di dunia saat ini dapat diperkirakan berjumlah ribuan atau puluhan ribu.

Di Indonesia saja kini memiliki enam agama resmi (Islam, Katolik, Protestan, Hindu, Buddha, Konghucu) dan 245 aliran kepercayaan yang terdaftar di Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata tahun 2003 (Wikipedia). Diperkirakan Indonesia dengan banyak suku dan 700 bahasa maka aliran kepercayaan yang tidak terdaftar masih banyak lagi.

Dengan melihat banyaknya perbedaan keyakinan di atas, Indonesia bisa disebut sebagai lahan paling subur tumbuhnya bibit radikalisme.

Dengan realitas perbedaan diametral antar agama dan aliran kepercayaan maka sangat potensial untuk terjadi sentimen, konflik hingga peperangan.

Sebagaimana dalam pandangan psikologi sosial, bahwa potensi konflik terjadi dilatarbelakangi oleh adanya perbedaan.

Namun faktanya, Indonesia tetap utuh berdiri di atas kemajemukan itu. Alasannya, karena masyarakat nusantara, sudah terbiasa dengan munculnya keberagaman agama, keaneragaman suku bangsa, budaya, dan bahasa.

Bagi bangsa Indonesia, perbedaan agama, suku, dan bahasa sudah final dan tidak perlu diperdebatkan dan dipertentangkan lagi. Kalau Indonesia mau pecah akibat gerakan radikalisme yang bernuansa agama, sejak dari dulu sudah pecah berantakan.

Artinya gerakan radikalisme berlatar belakang agama untuk melawan pemerintahan yang sah secara konstitusional di Indonesia sudah berakhir pasca pemberontakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) dibawa pimpinan Kartosuwiryo tahun 1962.

Sesudahnya hampir tidak ada lagi gerakan radikalisme yang mengatasnammakan agama melawan pemerintahan yang sah secara konstitusional.

Hal ini disebabkan, karena umat Islam sebagai agama mayoritas sudah mulai menerima keragaman itu.

Bahkan menurut pemimpin tertinggi Al-Azhar Prof. Dr. Syekh Ahmad Muhammad Ahmad Ath-Thayyeb, agama Islam di Indonesia telah menjadi agama kemanusiaan secara universal. Bangsa indonesia telah mampu menyingkap khazanah keislaman yang suci serta nilai-nilai hukum Islam dan akhlaknya dengan mewujudkan nilai keadilan, persamaan, dan sikap terbuka kepada orang lain.

Lalu kenapa sebagian petingi negeri sepertinya terserang “Phobia” dalam menyikapi aksi damai 112 yang akan dilakuan umat Islam.

Phobia yang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) diartikan sebagai “ketakutan yang sangat berlebihan terhadap benda atau keadaan tertentu yang dapat menghambat kehidupan penderitanya”.

Lebih spesifiknya “Agoraphobia” yaitu rasa takut berada di tempat terbuka atau pusat keramaian. Seseorang yang menderita Agoraphobia (takut keramaian) biasanya akan terlihat sangat cemas saat melihat atau berada di tengah-tengah kerumunan orang.

Tengoklah pernyataan Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono kepada wartawan di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Rabu (8/2/2017) yang mengatakan : Polda Metro Jaya menegaskan kembali pelarangan aksi 11 Februari 2017. Polisi akan membubarkan jika massa tetap menggelar aksi tersebut. (news.detik.com).

Dua hari sebelumnya (6/2/2017) jpnn.com memberitakan Mendagri Tjahjo Kumolo dan Wakapolda Metro Jaya Brigjen Suntana melarang aksi tersebut.

Bahkan, Menteri Politik Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Wiranto juga melarang. Pasalnya pada tanggal tersebut merupakan masa tenang kampanye Pilkada Jakarta. Menurutnya, bila masyarakat akan tetap melakukan unjuk rasa, maka aparat penegak hukum akan menindak.

Walaupun kemudian semua yang awalnya melakukan pernyataan melarang aksi 112 itu akhirnya mempersilahkan selama bisa berlangsung damai.

Sebagaimana pernyataan Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Argo Yuwono di Salemba, Jakarta Pusat, Selasa (7/2/2017) seperti dikutip dari tribunnews. Katanya, jelang memasuki masa tenang Pilkada serentak 15 Februari 2017, yang berlangsung selama 3 hari sejak 12-14 Februari mendatang pihak kepolisian mempersilahkan, bila ada masyarakat yang ingin menggelar aksi pada 11 Februari 2017.

Mestinya, dari awal semua pihak berkaca pada aksi damai jutaan umat Islam tangal 4 November yang kemudian berlanjut pada tangal 2 Desember 2016, yang terkenal dengan gerakan 411 dan 212.

Gerakan yang melibatkan ratusan ribu bahkan sampai jutaan umat Islam ini berlangsung super damai, bahkan tak satu pun rumput terinjak oleh massa aksi. Lalu kenapa harus Agoraphobia 112. (Salam damai tiada akhir)

Penulis : Direktur Sipil Institut - Ruslan Ismail Mage
Komentar Anda

Berita Terkini