|

Diplomat indonesia : Negara- Negara Pasifik itu Dukung Separatis dan teroris di Papua !


Diplomat indonesia, Nara Masista Rakhmatia,



REPORTASEGLOBAL.COM - Pemerintah indonesia mengecam enam negara di kepulauan Pasifik, yakni Vanuatu, Solomon Island, Tonga, Nauru, Marshall Island dan Tuvalu, atas dukungannya terhadap  kemerdekaan Papua, yang dimotori oleh Gerakan Pembebasan Papua atau Papua Merdeka, pimpinan Benny Wenda.

Kemarahan pemerintah indonesia atas sikap enam negara tersebut diluapkan oleh diplomat indonesia, Nara Masista Rakhmatia, yang menyebut negara-negara itu mendukung kelompok  separatis dan teroris di Papua.

Melalui pidatonya dalam forum yang berlangsung panas itu, Nara mengecam keras sikap negara – negara tersebut dan melontarkan tudingan bahwa pernyataan negara-negara itu benar-benar melanggar tujuan piagam HAM PBB dan melanggar prinsip hukum internasional tentang relasi persahabatan antarnegara serta kedaulatan dan integritas teritori suatu negara.

Indonesia menjawab dan mengkritik sikap enam negara yang menuding pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) di Papua dalam forum Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB), di New York, Amerika Serikat.
 Dalam Sesi ke-71 KTT PBB yang digelar 13-26 September itu, pemimpin enam negara Pasifik mendesak respons PBB terhadap keadaan di Papua.

Mereka membahas soal kekhawatiran akan keadaan dan pelanggaran HAM yang terjadi di Papua Barat.
 Indonesia kemudian mengirim utusannya bernama Nara Masista Rakhmatia, untuk menyampaikan hak jawab di forum tersebut.

Dalam paparannya, Nara menyampaikan bahwa Indonesia jauh lebih baik soal penegakan HAM dibanding enam negara yang coba mengusik Indonesia lewat Papua.

Kekesalan Nara terlihat melalui pernyataannya yang garang, bahwa  negara – negara tersebut sudah melanggar kedaulatan dan integritas teritori suatu negara. Menurutnya, negara-negara Kepulauan Pasifik sudah ikut campur urusan dalam negeri Indonesia soal Papua Barat.

 Diplomat muda berparas cantik ini juga menutup pidatonya dengan sebuah pepatah, bahwa "Ketika seseorang menunjukkan jari terlunjuknya pada orang lain, jari jempolnya otomatis menunjuk pada wajahnya sendiri."

Pemimpin Gerakan Pembebasan Papua, Benny Wenda, melalui seorang  juru bicara mengatakan, selalu ada respons defensif khas Indonesia setiap kali dukungan internasional untuk hak-hak orang Papua muncul.

”Mereka selalu berteriak. Bahkan di London, jika kita mengadakan acara di London, dalam pertemuan parlemen bagian dari dunia, mereka selalu berteriak,” kata Benny Wenda.

”Dan bagi kami, itu bukan hal baru. Jadi saya pikir waktu (telah tiba) bagi Pemerintah Indonesia untuk membuka akses ke Papua Barat,” katanya lagi, seperti dikutip radionz.co.nz, Sabtu (1/10/2016).

Desakan dari gerakan itu telah mengabaikan fakta bahwa sejak tahun lalu, Pemerintah Indonesia telah membuat beberapa langkah untuk memberikan lebih banyak akses bagi jurnalis asing ke Papua.

Langkah Indonesia itu dianggap Benny Wenda belum cukup. Menurutnya, akses ke Papua Barat juga harus diberikan untuk organisasi kemanusiaan dan HAM terkemuka internasional seperti Komite Palang Merah Internasional dan Amnesty International.(rg1)

Komentar Anda

Berita Terkini