|

Politisi Jangan Intimidasi Rakyat Aceh


Peneliti The Aceh Institute , Muazzinah Yakob


REPORTASEGLOBAL.COM - Berbagai bentuk ancaman secara lisan mau pun aksi kekerasan secara fisik mulai sering mencuat dan dirasakan masyarakat Aceh menjelang perhelatan pilkada serentak pada 15 februari 2017 mendatang.

Berbagai cara – cara pendekatan kurang etis oleh politikus dan tim suksesnya beserta kader parpol pendukungnya terhadap masyarakat merupakan hal yang tidak sepantasnya terjadi dan jauh dari sikap bijaksana.

"Sebagai Juru Bicara ADO (Komunitas Aceh Perantauan di Sigom Donja) saya melihat bahwa intimidasi ataupun pernyataan-pernyataan yang 'peuyoe' (menakut-nakuti) masyarakat sudah mulai dimainkan oleh aktor-aktor politik Aceh," kata Muazzinah Yacob sebagaimana dilansir Serambinews.com, Rabu (7/9/2016) pagi.

"Hal ini sungguh menyayat hati. Kita tolak secara berjamaah aroma kekerasan yang dimainkan untuk memperoleh kekuasaan. Teror fisik dan nonfisik seperti contoh statement jika calon gubernur yang diusung kalah, maka Aceh kembali konflik (tidak akan damai) adalah pernyataan yang membodohi rakyat Aceh, sekaligus melecehkan wibawa Indonesia yang dianggap tidak bisa mewujudkan perdamaian di Aceh," tegas Muazzinah Yacob.

Konflik sering bermula dari comment-comment/statement yang diucapkan secara terbuka dan ini tidak bisa dibiarkan. "Segala yang berbau kekerasan mesti dicegah bersama demi terwujudnya politik damai di Aceh," kata Dosen FISIP UIN Ar-Raniry ini.


Menurut Muazzinah, biarlah masyarakat Aceh menjadi makhluk merdeka dalam pesta demokrasi ini. Bebas menentukan pilihan dan bebas memilih tanpa trauma atas wujud intimidasi yang secara tidak langsung ini.

"Mari mewujudkan pilkada Damai di Aceh tanpa harus 'peuyoe' masyarakat. Dan masyarakat sebagai pemegang kedaulatan jangan takut untuk bisa memilih siapa pun calon pemimpin Aceh ke depan sesuai dengan hati sanubarinya masing-masing," kata Peneliti The Aceh Institue ini. (*)

Komentar Anda

Berita Terkini