|

Sejarah Sebagai Alat Legitimasi Kekuasaan

Ilustrasi

REPORTASEGLOBAL.COM - Setelah kita mengetahui bahwa ada banyak unsur yang mempengaruhi penulis sejarah dalam kerjanya, lalu bagaimana dengan fenomena penggunaan sejarah sebagai alat legitimasi kekuasaan? Inilah yang menjadi faktor kesengajaan dalam penulisan sejarah. Kekuasaan atau penguasa sengaja  meminta pada sejarawan atau penulis sejarah untuk menuliskan sejarah berdasarkan “pesanan” mereka.

 Pada kondisi tertentu, sejarawan sendiri mengalami faktor tekanan akibat kekuasaan tersebut sehingga tidak bisa bebas menginterpretasikan fakta secara lebih objektif. Ada pula penulis sejarah yang cari muka dan menggandrungi serta membesar-besarkan peran tokoh tertentu, sehingga penyimpangan sejarah terjadi secara sadar dan sengaja. Dalam konteks historiografi, hal inilah yang wajib diperangi.

Sejarah yang ditulis berdasarkan pesan “sponsor” oleh si tukang “cari muka dan keuntungan” hanya akan menghasilkan karya yang semu. Karya ini tidaklah menganalisis dan mengkritisi suatu peristiwa masa lampau secara objektif, tetapi justru akan menghasilkan produk pendukung status qou dari kepentingan dan penguasa. Tujuannya? Ya, melanggengkan kekuasaannya.

Ada beberapa faktor yang sangat berpengaruh dalam penulisan sejarah yang digunakan sebagai alat legitimasi kekuasaan. Pertama, pengaruh ideologi. Pengaruh ini sangat dominan karena ideologi telah melandasi subjektivitas yang relatif kental dari para penulis maupun pemesan. Semua usaha penulisan sejarah diarahkan untuk membenarkan  dan mempropagandakan ideologi mereka. Sementara di pihak lain interpretasi yang kontradiktif diberikan untuk idelogi lain yang notabene sebagai saingan atau musuhnya. Dengan demikian karya sejarah dijadikan alat propaganda. Propaganda dalam konteks ini lebih bersifat politis, karena bertujuan untuk menjamin diterimanya doktrin tertentu, penguasa dan rezim, pengikut setia suatu rezim, memanangkan pemilu, dll. (Sunarjo, 1982:24)

Kedua, erat kaitannya dengan kekuasaan adalah sistem politik yang berlaku yang mendukung suatu rezim. Oleh karena sistem politik yang regimentatif begitu kuat, menyebabkan banyak kendala bagi penulis sejarah untuk secara bebas melakukan penelitian. Apalagi penelitian sejarah yang terkait dengan para pelaku yang saat itu sedang berkuasa. Sistem politik yang “amang-amang” (menakut-nakuti) dan “iming-iming” (menjanjikan akan memberikan sesuatu) bisa merusak mental para penulis sejarah, baik karena takut untuk mengungkapkan kebenaran dari suatu peristiwa karena jiwanya terancam dan harus menempuh biaya. Di sini, tidak ada kebebasan dari sejarawan maupun penulis sejarah dalam mengungkapkan suatu peristiwa. Kebebasan boleh ada asal tidak menjelek-jelekkan, menyinggung, mengganggu kepentingan, dan lain-lain hal yang merugikan penguasa. Di sisi lain, politik “iming-iming” telah meracuni sejarawan menjadi “pelacur” dan pendukung penguasa untuk memperoleh sesuatu. Hal ini mengakibatkan penulisan sejarah sangat jauh dari nilai ilmiah. Sejarawan seperti ini dalam karyanya akan berusaha untuk mengendalikan dan menciptakan stereotip bagi minat dan keyakinan orang melalui propaganda sejarah. (Baca: Popper, 1985:118) Selain itu, sistem birokrasi juga sangat berpengaruh pada hasil kerja sejarawan. Sistem birokrasi yang terlalu ketat, menyebabkan kharakteristik dan gaya pribadi sejarawan akan larut bersama aturan-aturan birokrasi. (Kuntowijoyo, 1994:11)

Dalam konteks historiografi, penulisan sejarah yang tidak objektif sangat terkait dengan usaha ke arah justifikasi dan legitimasi kekuasaan, misalnya pada historiografi tradisional dan kolonial. Berbagai alasan pembenar diungkapkan dalam penulisan sejarah sebagai usaha untuk mengagung-agungkan kekuasaan. (Baca: Kartodirdjo, 1982) Dalam hal ini, ada hubungan antara kisah sejarah dengan orang yang mengisahkan (sejarawan). Menceritakan suatu peristiwa berarti mengambil keputusan etis. Jika seseorang menilai sejarah, dalam arti tertentu ia sendiri dinilai oleh kisah yang sedang ia ceritakan. Kisah bukanlah sekedar ditemukan oleh seorang pribadi, tetapi sebaliknya pribadi tersebutmemperoleh identitasnya dengan kisah yang diceritakan. Kesinambungan sejarah jika diungkapkan secara benar dan dengan pertimbangan moral, maka kesinambungan seperti itu tidak hanya menjadi kisah tentang masa lampau saja, tetapi merupakan suatu himbauan akan masa depan. (Peursen, 1990: 93)
Komentar Anda

Berita Terkini