|

Pilkada Aceh Penuh Kekerasan dan Meresahkan



Oleh : Tengku Ronny


REPORTASEGLOBAL.COM - Seruan pilkada damai yang digembar –gemborkan selama ini, tampaknya tak berarti apa – apa bagi para pihak yang terlibat persaingan dalam arena perebutan tampuk kekuasaan di tanah Aulia . 

Bukannya menjaga perdamaian, upaya berebut kuasa justeru masih didominasi oleh sengatan teror dengan berbagai menu yang sama sekali tidak menyenangkan. intinya, rakyat kembali digilas oleh tontonan gaya lama.

Tindak kekerasan demi tindak kekerasan semakin beringas memangsa banyak korban . Aksi main tangan dan tendangan, tebas sana dan tebas sini, hingga umbar rentetan senjata yang terang-terangan menghantar pesan bermuatan politis pun terus dipublis menjadi – jadi, seolah tak ada yang salah dengan itu semua .

Serentetan aksi horor pun tersaji kian marak membentang di berbagai daerah di Aceh, berhubung makin intensnya aktifitas politik akibat terjangkit pesta demokrasi jelang Pilkada Aceh 2017 mendatang.

Kisah aparat keamanan yang kecolongan tentunya selalu jadi hiasan pemberitaan dimana insiden – insiden itu menampakkan diri. Polisi pun dipaksa harus mampu kejar – kejaran dengan kejadian demi kejadian mengerikan, demi menguntit dan memburu ‘anak nakal’ dalam pesta demokrasi di tanah serambi mekah yang meutuah ini.

Tercatat dalam bulan ini saja, sejumlah tindak kekerasan serta kisah horor menikam benak publik di seantero bumi rencong terkait ritual perebutan kekuasaan.  Publik terbelalak, namun mulut mereka bungkam dicekam ketakutan musiman jelang pilkada sebagai mana tahun –tahun politik sebelumnya.

Budaya kekerasan berbalut teror sepertinya masih diyakini menjadi senjata paling ampuh menyelami dan mempengaruhi minat publik untuk merenggut penilaian mereka secara paksa atas kenyataan yang bergulir, memaksa publik untuk mengalihkan perhatian, pada siapa pilihan harus dijatuhkan nantinya, maksudnya raja mana yang mestinya berkuasa.

Ironis, Praktek - praktek demikian itu harusnya diyakini oleh para pihak untuk tidak dilestarikan, selain membarangus demokrasi, pameran aksi keji bukanlah sikap terpuji yang bisa dipertahankan dimasa depan.

Mungkin saja publik bisa memaafkan apa yang mereka saksikan dan alami saat ini, kenyataan demi kenyataan mengerikan yang seharusnya tidak terjadi, bahkan jauh dari apa yang mereka impikan. Namun dibalik itu semua, suatu saat nanti, tentunya publik tidak akan diam lagi, apalagi harus melupakannya.

Sebagaimana sejarah membuktikan, biasanya hukuman permanen akan dirasakan oleh pelestari budaya purba demikian, pilihan rakyat akan bergeser pada ’pemain’ yang Pro keadilan dan kebenaran, rakyat akan bersatu mendukung pemimpin yang menghargai perasaan mereka, rakyat tentunya  akan menjatuhkan pilihan pada aktor –aktor progresif yang  berpihak pada perkembangan zaman dan kemajuan.

Mengutip pernyataan Presiden Ke-6 Republik Indonesia, Dr Susilo Bambang Yudhoyono,dari sebuah wawancara ekslusifnya, Senin (29/8), terkait Pilkada serentak dibeberapa Provinsi di tanah air terutama di Aceh . Di negara mana pun jika kekuasaan digunakan secara berlebihan dan sewenang-wenang untuk menindas dan merampas hak rakyat, siapa pun dia akan tumbang, karena akan dilawan oleh rakyatnya sendiri. Kita harus belajar dari sejarah dan jangan melupakannya.”

Mestinya wejangan diatas mampu menyadarkan semua pihak yang terlibat dalam perlombaan perebutan kekuasaan untuk segera menghapus segala bentuk aksi kekerasan politis, apalagi rakyat Aceh saat ini masih berada dalam kondisi yang tidak menyenangkan dan kecewa.

Bahkan logikanya, Keadilan dan kemakmuran bagi rakyat sebagaimana yang dicita-citakan, tentunya tak akan bisa diraih dengan cara – cara penuh kekerasan dan kebencian. 

Penulis: Tengku Ronny

Komentar Anda

Berita Terkini