|

Gerakan Sejuta Koin Untuk Advokasi Mutia






 REPORTASEGLOBAL.COM -  Gerakan sejuta koin untuk Advokasi Mutia, perawat Rumah Sakit Arun, merupakan salah satu wujud Solidaritas Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Aceh terhadap Perawat Mutia, yang telah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus transfusi darah di Rumah Sakit Arun.

 Gerakan sejuta koin ini dimulai, Minggu (10/04/2016) di aula Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Langsa dan akan berlanjut keseluruh Aceh. Untuk koordinator pengumpulan koin di Kota Langsa adalah Arwinsyah, perawat RSUD Langsa.

 "PPNI Aceh akan mengadvokasi dan memperjuangkan Mutia, yang telah ditetapkan sebagai tersangka. Ini adalah musibah untuk perawat Aceh, oleh karenanya untuk menunjukkan solidaritas, gerakkan pengumpulan sejuta koin untuk mutia. Mari kita rapatkan barisan dan jaga kekompakan sehingga kasus ini selesai." demikian dikatakan Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Aceh, Abdurrahman, S.Kp. Mpd., yang didampingi Wakil Ketua Bidang Hukum dan Pemberdayaan Politik PPNI Aceh, T. Iskandar Faisal,Skp.M.kes. kepada Reportase Global, Minggu (10/4/2016).

Sementara itu, DR. Hermansyah, MPH. Sekertaris Majelis Kode Etik Keperawatan DPW PPNI  menjelaskan, jika melihat dari aspek kronologis, sebenarnya ada yang perlu diluruskan dan diklarifikasi secara bersama-sama, jangan sepihak, karena jika melihat dari aspek kode etik keperawatan, perawat Mutia sudah melakukan hal yang prosudural dalam menjalankan tugasnya sebagai perawat.

 "Melihat dari kronologi kejadian, Perawat Mutia sudah menjalankan tugasnya secara prosudural sebagai perawat" jelasnya.

Ketua DPD PPNI Kota Langsa Syamsuri, AMK.  mengatakan, jika melihat kronologis apa yg disampaikan oleh mutia melalui ketua divisi hukum DPW PPNI Aceh, maka perlu untuk ditinjau kembali mengenai penetapan tersangka terhadap mutia.

 Kemudian saya heran kenapa mutia yang harus menanggung semua ini, sementara pihak RS Arun, serasa lepas tangan dalam hal ini. Padahal mutia adalah tenaga kesehatan, mutia adalah tenaga kesehatan yang bekerja di RS arun. Kami meminta, manajemen Rumah Sakit, juga harus diperiksa dalam kasus ini, mengapa menempatkan tenaga bian untuk melakukan tindakan yang didelegasikan ke perawat.” Katanya.

Untuk diketahui, Mutia dijadikan tersangka oleh Polres Lhokseumawe dalam kasus transfusi darah  di RS arun.

“ Dalam kasus ini, RS arun diibaratkan sebuah kapal rusak, kalau kapal rusak itu main tempel sana tempel sini sekenanya asal kapal masih bisa digunakan. Jadi, asalkan rumah sakit masih bisa beroperasi  dan tidak terancam dicabut izinnya, pihak RS justeru lebih mengorbankan perawatnya” tegas Syamsuri.

“ Dalam hal ini, saya berpendapat bahwa Dokter ikut bersalah, karena perintah transfusi dari dokter . Kemudian yang memasang jarum transfusi darah adalah bidan, bukan mutia, sehingga yang dikatakan “ Mallpraktek” adalah bidan tersebut bukan mutia.” tandasnya

Ia juga menilai, petugas laboraturium RS arun juga bersalah, karena informasi berubah-ubah terkait golongan darah untuk transfusi darah pasien.

“ Besok kita gelar aksi solidaritas. Ada beberapa agenda kegiatan dalam aksi solidaritas diantaranya, Orasi di Puskesmas Muara Dua disebelah Polres Lhokseumawe, Audiensi dengan Kapolres Lhokseumawe, Aksi ke RS Arun dan audiensi dengan  Direktur RS Arun , serta kunjungan ke rumah keluarga pasien yang menjadi korban ,“ pungkas T.Iskandar Faisal yang juga pengurus DPDP Persatuan Pewarta Warga Indonesia(PPWI) Aceh ini. (Adi/RG1)

Komentar Anda

Berita Terkini