|

Globalisasi dan Piramida Korban Manusia






Pendahuluan

REPORTASEGLOBAL.COM - Buku Peter Berger yang berjudul Pyramids of Sacrifice (1974) — dalam bahasa Indonesia, Piramida Kurban Manusia Etika Politik dan Perubahan Sosial—merupakan salah satu buku penting yang membahas perubahan sosial dan pembangunan. Pandangan Berger menjadi bahan rujukan dan dibaca luas oleh kalangan peminat masalah-masalah pembangunan. Isu yang menarik dari buku ini adalah posisi Berger yang netral ketika membahas  sosialisme dan kapitalisme. Berger mengatakan bahwa kedua ideologi tersebut senantiasa menampakkan dua wajah yang saling bertolak belakang. Di satu sisi, jalan menuju kemakmuran dan di sisi lain merupakan pilihan yang menyedihkan. Sebagai jalan menuju modernisasi keduanya telah meminta korban-korban manusia untuk menyangga “pembangunan”.
 
Hal menarik dari pemikiran Berger adalah bahwa sebuah kebijakan pembangunan haruslah memperhatikan dua gagasan penting di dalamnya, yaitu calculus of meanings (perhitungan makna) dan calculus of pains (perhitungan penderitaan). Makna perubahan yang dialami oleh masyarakat menjadi fokus dari perhatian dan pembahasan Berger selanjutnya.

 Pembangunan, Kapitalisme dan Sosialisme
Dalam Piramida Kurban Manusia, Berger mengatakan, “Biaya-biaya manusiawi yang paling menekan adalah yang berkenaan dengan kekurangan dan penderitaan fisik. Tuntunan moral yang paling mendesak dalam pengambilan kebijaksanaan politik adalah suatu perhitungan kesengsaraan.”  Semakin terbelakang suatu negara, tampaknya semakin banyak paksaan yang diperlukan. Elit yang menjalankan modernisasi, dengan cukup cerdik, bersikap diam terhadap perusakan kreatif yang mengerikan, atau apa yang disebut Peter Berger sebagai “piramida kurban manusia”. Terjadinya “pirmaida kurban manusia” diakibatkan oleh ideologi pembangunan yang dianut oleh masing-masing Negara. Berger melihat, baik kapitalisme dan sosialisme, tidak semata-mata melahirkan kesejahteraan, justeru yang terjadi adalah penderitaan yang dialami sebagian manusia akibat pilihan ideologi yang diambil oleh elit negaranya.

Sistem kapitalisme, menurut Ebenstein, merupakan suatu sistem perekonomian yang bersumber pada modal pribadi (swasta) dengan ciri pasar bebas. Kapitalisme berorientasi pada pertumbuhan ekonomi setinggi-tingginya yang ditentukan oleh pasar bebas dan persaingan antara kaum bermodal. Dalam persaingan yang keras ini kaum lemah akan disingkirkan dari arena pergulatan hidup, sebab mereka tak sanggup bersaing. Konsekuensi dalam pembangunan kapitalis adalah orang bermodal lemah akan digeser. Dalam hal ini masyarakat pada umumnya menjadi korban persaingan.

Ide kapitalisme kemudian menyebar dan dianut oleh berbagai negara sebagai dasar dalam kebijakan politik dan ekonomi. Kapitalisme tidak hanya memberikan harapan adanya kesejahteraan, namun di sisi lain muncul ekses yaitu kemiskinan dan pengangguran (terbuka maupun setengah pengangguran) yang semakin massif. Lebih jauh, dampak setelah hampir satu dekade peran WTO mengemuka, maka terjadilah piramida kurban manusia –meminjam istilah Peter Berger– di tingkat global, yakni mayoritas negara-negara miskin yang tidak manjalankan ekonomi pasar kapitalis dan kurang bersahabat secara politik dengan AS, menjadi ”kaum proletar” secara berkelanjutan. Sementara, yang berada di puncak dari piramida tersebut adalah negara supermakmur yang memiliki segalanya: kekuatan ekonomi, politik, dan militer, yakni AS, kemudian disusul Jepang dan Uni Eropa.

Terhadap ideologi pembangunan kapitalis, Berger mengkritisi dengan mengedepankan pertanyaan fundamental. Siapa yang dapat meraup keuntungan dari kebijakan yang ditempuh dan siapa yang mengambil keputusan itu? Secara mendasar Berger memperlihatkan bahwa ideologi kapitalis memperlebar jurang antara sang kaya dengan si miskin. Sang kaya akan menjadi lebih konglomerat dan yang si miskin akan terus terpuruk dalam kemiskinannya.

Uraian diatas bukanlah sebuah ungkapan untuk mengkampanyekan anti-ekonomi pasar dan menolak langkah menciptakan daya saing ekonomi dalam kerangka interdependensi ekonomi global. Kompetisi ala kapitalisme (Liberalisme) yang ketat menimbulkan pertanyaan besar, akan dikemanakan mereka yang kalah ? Misalnya petani Indonesia yang produknya jauh lebih mahal dari Cina atau Vietnam, bagaimana nasib mereka ? Bilamana konsisten tanpa bea masuk, seperti anjuran perdagangan bebas yang diamanatkan neo liberal, lalu bagaimana nasib jutaan petani di Indonesia. Bila terus bertani, jelas rugi besar, bila beralih sektor lain, mereka tak punya skill atau keahlian lain. Namun yang jelas, mereka harus menghidupi keluarganya. Pertanyaan tentang bagaimana nasib mereka yang kalah  terus menggantung. 

Salah seorang ekonom yang berasal dari Hongaria, Karl Polanyi secara terang-terangan menentang praktek pasar bebas ala neoliberalisme. Dalam The Great Transformation, Polanyi membahas sejarah perkembangan pasar dan pengaruhnya terhadap masyarakat. Melalui buku ini, Polanyi mengatakan bahwa pemerintah dengan kekuatan politik dan ekonomi yang dimilikinya telah menggadaikan kehidupan rakyat kepada praktik pasar bebas dan menghancurkan kehidupan sosial. 

Atas kondisi ini, Polanyi menawarkan sebuah solusi bahwa kontrol sosial atas pasar harus dikembalikan dan tidak membiarkan pasar yang menguasai masyarakat. Polanyi menyoroti self-regulating market sebagai hal yang secara nyata-nyata menjadi kekuatan destruktif yang merampas nilai-nilai kemanusiaan. Self-regulating market diiringi sistem kekuasaan, standar emas, dan segala unsur kapitalisme yang menempatkan hak-hak atas kepemilikan sebagai hal yang utama telah menempatkan buruh semata-mata sebagai komoditas. 

Pesan penting yang disampaikan Polanyi dari analisis terhadap pengalaman Eropa Barat setelah Perang Dunia I adalah, membawa kembali masyarakat dan tatanan sosial untuk diperhitungkan dalam memahami tindakan-tindakan ekonomi. Polanyi menemukan jawaban terhadap masalah-masalah ekonomi, dalam hubungan-hubungan sosial yang tidak terhancurkan. Tindakan ekonomi pada dasarnya tidak dapat dipisahkan dari relasi-relasi sosial dan relasi-relasi kekuasaan. Menurut Polanyi, sistem ekonomi hanyalah merupakan fungsi dari organisasi sosial.

Sedangkan penyelamatan dalam versi sosialis adalah pembebasan dari kapitalis, persamaan hak, dan kesetiakawanan, kolektivisme dan penghapusan milik pribadi, penghapusan ketidakadilan. Singkatnya mereka mendambakan pembebasan melalui revolusi sosialis. I Dalam ideologi pembangunan sosialis ini pertanyaan kritis yang diajukan Berger, antara lain, kalau betul sosialisme mencita-citakan pembebasan dan penyelamatan, mengapa di balik revolusi terjadi pembantaian manusia yang tidak bersalah secara membabibuta ?

Dalam bingkai itulah, Berger berpendapat bahwa revolusi sosialis membebankan biaya-biaya manusiawi: menyembunyikan kepentingan orang yang berkuasa dalam sistem sosialis, ideologi pembangunan sosialis lebih menampilkan kebengisan tiada taranya ketimbang usaha-usaha pembebasan seperti yang didengungkan. Itulah tuduhan Berger yang cukup beralasan dan kritiknya yang menggugat akan eksistensi pembangunan.
Berger tidak antipati dengan pembangunan. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa dalam mengejawantakan pembangunan (kapitalis dan sosialis) manusia kebanyakkan yang menjadi korban. Selain itu, hasil yang dicapai dari pembangunan adalah kemiskinan, penggusuran tanah warga tanpa ganti rugi yang layak, ketidakadilan yang mencekik rakyat banyak dan ketidakmerataan pendapatan bagi kebanyakkan warganya. Dalam kerangka itulah yang menjadi titik berangkat Berger mengkritisi ideologi pembangunan. Pemikiran Berger ini merangsang pemikiran dan membuka cakrawala para perancang pembangunan, agar sungguh memperhitungkan nilai-nilai universal kemanusiaan dalam setiap pembangunan.

 Globalisasi dan Perubahan Sosial
Selain buku Piramida Kurban Manusia,  Peter Berger bersama Samuel Huntington mengedit buku yang berjudul Many Globalization: Cultural Diversity in Contemporary World  yang menampilkan hasil riset beberapa orang ahli di berbagai negara. Seperti dikatakan oleh buku ini bahwa globalisasi itu sebenarnya tidak berjalan satu arah, atau berjalan secara monolitik. Artinya, bergerak dari pusat ke pinggiran. Gerakan itu seperti gerakan terpusat yang digerakkan oleh  kapitalisme mutakhir.

Dalam  kata pengantarnya, Berger membicarakan tentang empat macam kebudayaan global, yaitu yang disebut business culture, faculty club culture, popular culture, dan social movement. Pertama, business culture atau yang sering disebut Davos culture, mengacu pada sebuah kota di Swiss yang setiap awal tahun dipakai untuk pertemuan pebisnis atau endowment besar seluruh negara bersama semua pemimpin negarabesar untuk berbicara tentang ekonomi dunia. 

Kelompok ini bergerak di bidang globalisasi ekonomi yang rutin mendiskusikan masalah ekonomi tingkat dunia. Mereka berbicara bagaimana mencegah resesi dunia, tentang investasi, tentang capital flows, dan lain sebagainya. Anggota  kelompok ini adalah semua pelaku bisnis; entah dari tingkat global atau lokal sejauh mereka terlibat dalam bisnis yang tidak bisa tidak bergerak ditingkat global.

Kedua, faculty club culture, istilah ini mengacu pada jaringan-jaringan yang dibentuk oleh intelegensia termasuk juga jaringan NGO internasional. Sebagaimana kita tahu, dari NGO internasional itu juga banyak sekali orang-orang yang mendapatkan pendidikan di universitas bahkan memperoleh gelar tertinggi dari universitas. Mereka membentuk sebuah kebudayaan sendiri dan rupanya juga mengacu pada perilaku yang sama, memakai kode etik yang kurang lebih sama, mereka juga memakai jargon-jargon yang sama.

Ketiga, popular culture. Istilah popular culture mengacu pada perilaku yang sekarang sedang diminati oleh orang biasa atau rakyat jelata. Misalnya hampir semua masyarakat suka dengan McDonald, Pizza Hut, coca-cola, Jeans itu sudah masuk dalam popular culture. Keempat, social movement. Istilah ini mengacu pada semua orang yang bergerak dan para aktivis pada tingkat global yang mengadakan gerakan-gerakan global dengan memakai fasilitas-fasilitas global seperti telpon, internet, dan lain sebagainya.

Peter L. Berger melihat bahwa gerak ini bukan melulu satu arah. Dia menyebut proses localization. Misalnya, McDonalds di Amerika dirancang sebagai restoran cepat saji. Tapi kalau sudah di luar Amerika malah menjadi tempat nongkrong berlama-lama tidak cepat makan kemudian pergi. Kemudian dia juga mencoba untuk menawarkan istilah lain yaitu hybridization, percampuran antara yang global dan yang lokal.
Dalam buku Many Globalization, Berger terkesan melakukan pembelaan yang gigih terhadap globalisasi yang lebih banyak disuarakan oleh negara yang  menganut paham liberalisme ekonomi (kapitalisme). 

Berbeda dengan buku lama yang berjudul “Piramida Kurban Manusia Etika Politik dan Perubahan Sosial”, Berger melakukan kritikan yang tajam terhadap gejala globalisasi yang hanya menguntungkan sekelompok kecil orang yang menikmatinya. Di sisi lain, pandangan Berger ini berpaut dengan pemikiran seorang Filosof Eropa, Karl R. Popper. Popper berpendapat bahwa masyarakat yang sehat adalah masyarakat yang terbuka atau The open society. Ciri masyarakat terbuka menurut Popper adalah kesediaannya untuk menerima koreksi dan ide dari manapun. Sehingga, meski banyak mengalami instabilitas, masyarakat yang terbuka pada dunia luar mampu melakukan pencapaian-pencapaian yang tinggi. Tesis Popper ini merupakan anti-dot terhadap sistem komunisme yang ada di negaranya, Polandia.

“Keterbukaan” dan bukan menutup diri yang dipercaya bisa membawa kemakmuran suatu negara. Keberhasilan Jepang tidak terlepas dari restorasi yang tidak lain adalah: membuka diri terhadap kemajuan Eropa dan Amerika. Lebih menakjubkan lagi, Jepang tidak kehilangan identitasnya sebagai sebuah bangsa. Sebaliknya, Jepang adalah bangsa yang kuat dalam memegang tradisi, namun bukan dalam pengertian yang reaksioner. Secara tidak langsung kasus Jepang mematahkan kekhawatiran mereka yang phobia dengan globalisasi budaya.

 Kesimpulan
Belajar dari kemajuan yang telah dicapai bangsa Jepang, menunjukkan bahwa mereka bisa bertahan, bukan karena pertolongan pasar, tapi karena jaringan sosialnya yang dibentuk budaya, keyakinan, etika atau filosofinya. Keuntungan tidak selalu dalam keuntungan akuntansi, yaitu selisih antara pemasukan dan biaya. Ukuran kemajuan ekonomi tidak selalu ditunjukkan oleh angka kuantitatif, moneter, finansial, atau angka agregat. Permainan mekanisme pasar yang buta hati itu bisa menimbulkan matinya berbagai fungsi produksi yang sebenarnya merupakan kerugian besar bagi ekonomi riil.

Globalisasi kapitalisme tidak serta merta membawa kemakmuran dengan cepat. Selalu ada pergulatan yang timbul, dan tidak menutup kemungkinan juga ada harga mahal yang harus dibayar. Kesenjangan sosial dan tidak meratanya pendapatan adalah efek langsung dari globalisasi. Tetapi hal tersebut lebih parah terjadi di negara-negara yang anti dengan “keterbukaan”. China, Jepang, Korea, Singapura dan beberapa Negara lain yang sudah maju atau “naik daun” mengalami hal serupa.

Ideologi pasar bebas percaya bahwa mekanisme pasar akan mengoreksi kesalahannya sendiri, tidak terbukti dalam kenyataan. Kegagalan pasar bebas sama sekali tidak berarti pasar bebas tidak lagi diperlukan. Pasar bebas harus diterapkan, tapi ruang bagi pemerintah harus tetap ada agar pasar berjalan tertib, fair, dan tidak distortif. Kalau semuanya hanya dibiarkan seperti sekarang, di mana mekanisme pasar bebas dan kompetisi dibiarkan begitu saja, agaknya ramalan Polanyi tentang realitas dunia yang menuju pada “demolition of society” akan terbukti kebenarannya ” . 
  
Posted by :Harunalrasyid

Komentar Anda

Berita Terkini