|

Kami Bukan Teroris dan Pemberontak !


Warga


REPORTASEGLOBAL.COM - Warga mengecam pendudukan oleh sekitar 200 personil aparat gabungan dari kepolisian resort Aceh Tamiang  terkait  perkebunan   yang kini  menjadi lahan sengketa  antara warga setempat dengan  PT. Rapala, di Desa Paya Rahat,Tengku Tinggi,Tanjung Lipat 1 dan Tanjung Lipat 2, kec.  Bendahara, Kab. Aceh Tamiang.

 Warga beralasan,  kehadiran aparat itu telah menimbulkan keresahan dan   trauma mendalam bagi masyarakat setempat, terutama setelah 12 orang warga ditahan pasca aksi demonstrasi terkait sengketa berkepanjangan itu.

Seorang warga bernama Fery, menolak keras keberadaan aparat pada lahan sengketa itu, dan menuntut agar Aparat keamanan meninggalkan lahan yang diclaim milik warga itu. Sebagaimana  yang ia sampaikan kepada Reportase Global , Sabtu (26/03).

“Apakah desa kami ini mau dibuat seperti darurat militer ?  kami ini bukan teroris dan pemberontak ! “ tegas  Fery yang juga bertindak sebagai kordinator dalam sejumlah  aksi demonstrasi menuntut hak warga atas lahan seluas 144 hektar yang dikuasai oleh PT. Rapala milik  Paul Baja Marudut Siahaan itu.

 Fery  pun mengkhawatirkan  kehadiran   aparat kepolisian   akan mengganggu proses penyelesaian konflik antara warga dan pihak perusahaan perkebunan  .

Yang membuat kami tidak tentram dan tidak nyaman  adalah adanya  pihak kepolisian di lahan itu, kami nilai pihak kepolisian yang memicu konflik di desa kami dan kami khawatir pihak kepolisian mengganggu proses penyelesaian dan dapat menghilangkan bukti - bukti fisik  atas kepemilikan tanah kami yang di rampas PT.Rapala.” Tandas sang Demosntran.

Fery juga menuntut agar pihak  kepolisian bersikap netral dan tidak menyudutkan warga dalam berbagai tindakannya terkait perselisihan tersebut.

Kami juga tidak mau aparat kepolisian aceh tamiang mengintimidasi warga/masyarakat. Ini zaman demokrasi. Jangan nanti kami turun aksi untuk menyuarakan hak kami sebagai warga negara indonesia, kami di tahan oleh pihak  Polres Aceh Tamiang, hanya karena kepentingan perkebunan (Paul Baja Marudut Siahaan). Sudah cukup  12 orang saudara kami jadi narapidana.  Dan kami akan melawan penindasan dan ketidakadilan ini sampai titik darah penghabisan “ katanya.

Fery  kembali menegaskan,  bahwa warga akan menggelar aksi demonstrasi  lanjutan, apabila  pihak kepolisian belum juga beranjak keluar dari lahan itu. Menurut Fery, Warga  juga melarang pihak perkebunan untukmelakukan proses replanting (penanaman kembali) sebelum adanya kepastian atas lahan itu. ( RG 1/Benk)

Komentar Anda

Berita Terkini