|

Perang Iran Versus Arab Saudi Demi Dongkrak Harga Minyak

ilustrasi minyak | ist
REPORTASEGLOBAL.COM - Perang Iran dan Arab Saudi terus berlangsung, kini kedua negara Islam tersebut terlibat aksi saling boikot terhadap satu dengan yang lainnya.

Iran mengumumkan larangan impor barang Arab Saudi dan Arab Saudi menyerukan boikot produk asal Teheran. Pemerintah Iran mengumumkan larangan impor barang dari Arab Saudi setelah melakukan rapat kabinet yang dipimpin langsung oleh Presiden Hassan Rouhani seperti dilansir dari laman Reuters dari kantor berita IRNA, Kamis (7/1) kamerin.

Bukan itu saja, pemerintah Iran juga memberlakukan larangan umrah ke Mekkah. Larangan ini adalah yang kedua kalinya setelah sebelumnya dilakukan pada bulan April lalu sebagai reaksi atas serangan seksual terhadap dua pria asal Iran oleh penjaga bandara Saudi.

Demi Dongkrak Harga Minyak

Menteri Luar Negeri Arab Saudi Adel al-Jubeir mengatakan pihaknya telah menghentikan penerbangan udara dan hubungan perdagangan dengan Iran. Meskipun begitu, masih ada beberapa perusahan Arab Saudi yang belum mengikuti kebijakan pemerintahnya.

Namun, derasnya tekanan dari konsumen dan kelompok bisnis untuk memboikot produk Iran membuat Kamar Dagang Saudi mengikuti permintaan tersebut dan harus mencari alternatif lain untuk menggantikan produk yang berasal dari Iran.

Ketegangan antara dua produsen minyak utama atas eksekusi seorang ulama Syiah terkemuka Arab Saudi telah meletus menjadi krisis diplomatik yang meluas setelah Riyadh dan sekutu Sunni Arab-nya memutuskan atau menurunkan hubungan mereka dengan Iran, memicu keprihatinan global.

Namun para analis mengatakan bahwa dampak dari risiko geopolitik di Timur Tengah di pasar minyak sedang diimbangi oleh kelebihan pasokan dan produksi yang lebih tinggi dari produsen minyak di bagian lain dunia.

Persediaan minyak AS berdiri di dekat tingkat rekornya dan pasar memperkirakan peningkatan lagi dalam laporan mingguan Rabu dari Departemen Energi AS.

"Pasar umumnya memperkirakan akan ada penambahan sekitar satu juta barel," kata Bob Yawger, analis di Mizuho Securities.

"Itu mungkin alasan utama bahwa pasar telah mendiskon semua latar belakang kebisingan yang terjadi antara Arab Saudi dan Iran." Penurunan harga minyak juga didorong oleh penguatan dolar AS yang membuat minyak mentah yang dihargakan dalam dolar lebih mahal dan kurang menarik bagi pembeli yang memegang mata uang lainnya.

Dolar AS menguat terhadap sebagian besar mata uang lainnya pada Selasa, karena perbedaan kebijakan antara Federal Reserve dan Bank Sentral lainnya telah mendorong arus investasi ke AS dan mengangkat greenback.

Sementara itu, kantor berita Antara melaporkan, harga minyak mentah light sweet atau West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Februari naik US$48 sen atau 1,3 persen menjadi US$37,52 per barel. Sementara harga minyak mentah Brent untuk Februari diperdagangkan naik US$61 sen atau 1,64 persen menjadi US$37,89 per barel.

"Minyak mengawali tahun baru dengan penaikan, karena pasar Asia bereaksi terhadap ketakutan bahwa ketegangan geopolitik di Timur Tengah dapat mengancam pasokan minyak," kata Bernard Aw, Analis Pasar IG Markets di Singapura dikutip dari Antara, Senin (4/1).

Namun, Aw meyakini naiknya harga minyak tersebut hanya akan berlangsung sesaat sebelum kemudian turun kembali mengingat dunia akan terus-menerus kelebihan pasokan sepanjang 2016 yang akan harga dalam jangka panjang.

"Kecuali ada penurunan jumlah produksi minyak dari kedua negara tersebut dan komunitas produsen minyak yang lain, maka kelebihan pasokan akan bertahan lama. Artinya harga minyak akan tetap di bawah tekanan untuk jangka waktu lama," cetusnya.

[T.Hidayat/BS]
Komentar Anda

Berita Terkini